IAINIAIN

Journal Of Biology EducationJournal Of Biology Education

Kehilangan sumber bahan bakar fosil, bersamaan dengan meningkatnya permintaan energi, telah mendorong pengembangan energi terbarukan, termasuk bioetanol dari biomassa lignoselulosa. Pretreatment asam pada hemiselulosa melepaskan senyawa penghambat selain xilosa. Dengan potensi pemanfaatan lignoselulosa sebagai substrat fermentasi, kami mengisolasi sebuah strain Enterobacter yang memiliki kemampuan untuk memfermentasi xilosa dan mentoleransi konsentrasi tinggi inhibitor. Seleksi dilakukan dalam media yang mengandung berbagai sumber karbon dan energi; glukosa, selobiosa, CMC, furfural, dan 5-HMF. Strategi karakterisasi strain terpilih, seperti variasi konsentrasi xilosa (25–100 g L⁻¹), furfural (0–25 mM), serta immobilisasi sel, digunakan untuk mengukur hasil maksimum etanol yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain kami dapat memfermentasi hingga 100 g L⁻¹ xilosa dalam keberadaan 20 mM furfural pada suhu 37 °C untuk menghasilkan etanol dengan hasil maksimum 2,22 g L⁻¹ dalam 24 jam pada pengadukan magnetik 160 rpm. Temuan ini menyiratkan bahwa Enterobacter sp. yang diisolasi merupakan strain yang menjanjikan untuk biokonversi hidrolisat pretreatment biomassa lignoselulosa menjadi bioetanol.

Mikroorganisme yang mampu memfermentasi semua gula dalam hidrolisat lignoselulosa sekaligus tahan terhadap konsentrasi tinggi inhibitor sangat dibutuhkan oleh biorefinery karena sifatnya yang melampaui performa ragi pada produksi bioetanol generasi kedua.Hasil penelitian menunjukkan bahwa strain yang diuji dapat memfermentasi xilosa dengan hasil etanol 2,22 g L⁻¹ dan mentoleransi 25 mM furfural, menjadikannya kandidat menjanjikan untuk fermentasi hidrolisat lignoselulosa.Selain produksi etanol, strategi rekayasa dengan Enterobacter juga dapat diarahkan untuk menghasilkan produk kimia bernilai lain dari gula lignoselulosa, sehingga diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang tahan terhadap stres dan etanol menggunakan beragam sumber karbon.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi manipulasi genetik pada strain Enterobacter untuk meningkatkan toleransi terhadap konsentrasi furfural yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan fermentasi pada hidrolisat yang lebih mengandung inhibitor. Selain itu, penting untuk menguji kinerja strain ini pada hidrolisat lignoselulosa nyata yang dihasilkan dari berbagai bahan baku pertanian, seperti limbah kelapa sawit atau jerami padi, untuk menilai efektivitasnya dalam kondisi industri yang beragam. Selanjutnya, studi ko‑kultur antara Enterobacter sp. dengan ragi fermentatif seperti Saccharomyces cerevisiae dapat diusulkan untuk memaksimalkan pemanfaatan semua gula (glukosa dan xilosa) sekaligus meningkatkan total produksi etanol dan produk sampingan bernilai tinggi, dengan menilai interaksi metabolik dan optimalisasi rasio inokulum masing‑masing mikroorganisme.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/BF00451607Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 BF00451607
  2. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... microbialcellfactories.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12934-020-01354-9Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site microbialcellfactories biomedcentral articles 10 1186 s12934 020 01354 9
  3. Isolation and Characterization of Xylose Fermenting Yeast from Different Fruits for Bioethanol Production.... doi.org/10.20546/ijcmas.2018.701.292Isolation and Characterization of Xylose Fermenting Yeast fromADifferent Fruits for Bioethanol Production doi 10 20546 ijcmas 2018 701 292
Read online
File size390.72 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test