SERAMBI MEKKAHSERAMBI MEKKAH

Jurnal Serambi EngineeringJurnal Serambi Engineering

Sayur mayur yang tidak laku dijual di pasar akan membusuk dan dibuang begitu saja. Hal ini membuat volume sampah semakin meningkat setiap harinya. Sampah sayur yang tidak laku, dapat diolah kembali menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai jual. Tujuan dari penelitian ini, memanfaatkan sampah sayur menjadi bahan baku bioethanol, yang bernilai ekonomi. Sampah sayur yang dipilih adalah dari kentang, wortel, kubis, singkong, sawi putih, dan sawi hijau, karena memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dari sampah sayur lainnya. Produk bioethanol yang dihasilkan, akan diukur kadar bioetanol dan lama fermentasinya. Dua faktor tersebut, berpengaruh terhadap kualitas bioethanol yang dihasilkan. Mikroorganisme yang dimanfaatkan dalam penelitian ini, adalah Saccharomyces cerevisiae. Mikroorganisme tersebut berada didalam ragi roti maupun ragi tape, yang juga diteliti efektivitasnya untuk produksi bioethanol sampah sayur ini. Dari penelitian ini, menghasilkan bioethanol dengan kadar etanol tertinggi sebesar 15% v/v, dihasilkan pada interaksi ragi roti dan lama fermentasi 6 hari. Sedangkan, dari produksi menggunakan ragi tape, didapatkan kadar etanol sebesar 13% v/v. Bioetanol dari sampah sayuran ini tidak hanya untuk mengurangi beban timbulan sampah saja, melainkan dapat dijadikan sebagai energi alternatif pengganti BBM.

Sampah sayuran dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembuatan bioetanol dengan volume 15-20 ml dari 100 gram sampah sayuran.Konsentrasi ragi dan kandungan karbohidrat dalam sampah sayuran berpengaruh terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan, dengan semakin tinggi konsentrasi ragi dan kandungan karbohidrat, semakin tinggi pula kadar bioetanol.Kadar bioetanol tertinggi sebesar 15% v/v dihasilkan dari sampah kentang menggunakan ragi roti selama 6 hari fermentasi.

Penelitian lanjutan dapat difokuskan pada optimasi pretreatment sampah sayuran untuk meningkatkan kadar gula reduksi yang tersedia bagi mikroorganisme, sehingga meningkatkan efisiensi fermentasi. Selain itu, studi lebih mendalam mengenai jenis-jenis mikroorganisme lokal yang berpotensi menghasilkan bioetanol dari sampah sayuran perlu dilakukan, sebagai alternatif pengganti Saccharomyces cerevisiae yang sering digunakan. Terakhir, penelitian mengenai integrasi produksi bioetanol dengan sistem pengelolaan sampah terpadu di pasar tradisional dapat dilakukan untuk menciptakan solusi berkelanjutan dalam mengatasi masalah sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teknologi bioetanol dari sumber daya lokal yang terbarukan, serta mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dan diversifikasi energi di Indonesia.

Read online
File size288.53 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test