ITLITL

JMBTLJMBTL

Bandara Internasional Yogyakarta‑Kulon Progo merupakan bandara pengganti Bandara Adisutjipto‑Yogyakarta yang sudah tidak dapat diperluas lagi karena keterbatasan lahan. Dimana bandara ini memiliki kode referensi aerodrome 4E instrumnet kategori ketelitian I hal ini ditinjau dari landas pacu utama yang memiliki ukuran 3.600 meter x 45 meter. Pada dasarnya untuk menentukan batas‑batas utama Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dengan melihat perbedaan ketinggian medan untuk metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Lokasi pengukuran di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Internasional Yogyakarta, data sekunder yang dilakukan adalah dengan menganalisa dan menentukan ketinggian halangan. Dalam penentuan batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) di sekitar Bandar Udara Internasional Yogyakarta‑Kulon Progo dengan menggunakan titik‑titik koordinat yang diaplikasikan dalam koordinat geografis terdapat halangan, yaitu: 3 (tiga) bangunan hotel yang berada di area bawah permukaan horizontal dalam. Perlunya pengendalian dan pembinaan oleh Kementerian Perhubungan dalam rangka menjaga keselamatan penerbangan terhadap bangunan dan benda‑benda yang tumbuh di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandar Udara Internasional Yogyakarta‑Kulon Progo untuk menjamin keselamatan penerbangan agar tidak membahayakan operasional penerbangan.

Studi menunjukkan bahwa tiga hotel di sekitar Bandara Internasional Yogyakarta‑Kulon Progo berada di bawah permukaan horizontal KKOP dan melebihi batas tinggi yang ditetapkan, sehingga berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.Oleh karena itu disarankan dilakukan pengawasan ketat serta pemasangan lampu penanda penghalang pada bangunan‑bangunan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.KM 23 Tahun 2005 dan SNI 03‑7051‑2004.Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang bangunan tinggi terhadap operasi penerbangan, efektivitas lampu penghalang, serta strategi sosialisasi dan perencanaan tata ruang yang melibatkan pemerintah daerah dan komunitas sekitar.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji secara kuantitatif dampak akumulasi bangunan tinggi pada pola penerbangan dengan menggunakan model simulasi lalu lintas udara serta analisis statistik historis kecelakaan; selanjutnya, studi eksperimental perlu menguji efektivitas berbagai tipe lampu penanda penghalang (tipe I, II, III) dalam meningkatkan visibilitas pada kondisi cuaca dan cahaya yang berbeda, untuk menentukan konfigurasi optimal yang memenuhi standar SNI; terakhir, penelitian sosial‑kultural dapat merancang dan menguji metode sosialisasi berbasis partisipasi komunitas lokal, termasuk penggunaan media digital dan workshop, guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepatuhan pada regulasi KKOP serta mengukur perubahan perilaku warga terkait pembangunan di zona sensitif bandara.

  1. SURGA11: Link Login Resmi dengan Penawaran Bonus Sambutan Member Baru. rancangan visual flight rules... journal.ppicurug.ac.id/index.php/jurnal-ilmiah-aviasi/article/view/493SURGA11 Link Login Resmi dengan Penawaran Bonus Sambutan Member Baru rancangan visual flight rules journal ppicurug ac index php jurnal ilmiah aviasi article view 493
  2. Penilaian Kriteria Prasarana Bandar Udara Internasional dalam Mendukung Peningkatan Kunjungan Pariwisata... ojs.balitbanghub.dephub.go.id/index.php/warlit/article/view/829Penilaian Kriteria Prasarana Bandar Udara Internasional dalam Mendukung Peningkatan Kunjungan Pariwisata ojs balitbanghub dephub go index php warlit article view 829
Read online
File size1.01 MB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test