JCOPUBLISHINGJCOPUBLISHING

Journal Corner of Education, Linguistics, and LiteratureJournal Corner of Education, Linguistics, and Literature

Tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan fungsi dari properti yang digunakan dalam tari Osuleng, (2) mendeskripsikan elemen dan peran tari Osuleng dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Pulau Banggai, serta (3) memahami makna simbolis gerakan tangan yang terangkat dalam tari Osuleng. Penelitian ini merupakan studi kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi peneliti terhadap tari Osuleng. Dalam mengidentifikasi dan menganalisis fungsi, peran, dan makna digunakan teori semiotik. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa tari Osuleng perlu dipelajari bukan hanya sebagai pertunjukan tetapi juga sebagai filosofi hidup yang mengandung nilai persatuan, kebukaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Tari Osuleng sebaiknya diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal maupun non-formal, seperti mata pelajaran lokal atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, untuk menanamkan nilai budaya sejak dini.

Sarung (selempang) yang digunakan dalam tari Osuleng memiliki tiga fungsi utama yaitu estetika, simbolis, dan teknis.Gerakan mengalir dan berfluktuasi sarung menciptakan garis indah, menambah warna dan tekstur pada kostum, serta membentuk karakter tari Osuleng sebagai tari dinamis namun anggun.Kualitas, warna, dan cara memakai sarung dapat menunjukkan status penari atau keluarga tuan rumah.Dalam tari berpasangan, sarung merepresentasikan ikatan pernikahan dan hubungan sosial dalam masyarakat.Mencerminkan nilai kesopanan dalam ajaran Islam, karena sarung menutupi bagian tubuh tertentu.Dengan teori semiotik Roland Barthes, gerakan tangan yang terangkat (lente-lente tangan) memiliki makna denotatif.Kedua telapak tangan menghadap ke atas (supinasi), jari-jari terbuka namun rileks, lengan diperpanjang atau dibengkokkan di sisi tubuh, dan gerakan dilakukan secara bersamaan dengan kedua tangan, mengikuti irama musik pelengkap.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak integrasi tari Osuleng ke dalam kurikulum pendidikan formal terhadap pelestarian nilai budaya masyarakat Pulau Banggai. Selain itu, perlu dilakukan analisis peran media sosial dalam promosi tari Osuleng sebagai aset pariwisata budaya yang berkelanjutan. Terakhir, studi tentang adaptasi tari Osuleng dalam konteks modernisasi tanpa menghilangkan esensi simboliknya dapat menjadi arah penelitian baru. Penelitian ini berpotensi memberikan wawasan tentang mekanisme pelestarian warisan budaya di tengah tantangan globalisasi. Perlu pula dikembangkan pendekatan partisipatif yang melibatkan generasi muda dalam proses dokumentasi dan penyampaian tari Osuleng. Analisis ekonomi kreatif dari pengembangan tari Osuleng sebagai produk wisata budaya juga menjadi rekomendasi penting. Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan kebijakan budaya yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Read online
File size192.88 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test