INFLUENCE JOURNALINFLUENCE JOURNAL

One moment, please...One moment, please...

Pada era emansipasi saat ini, perempuan memperoleh hak politik yang setara untuk dapat memasuki ranah politik. Artikel ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi electabilitas perempuan sebagai anggota legislatif Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) yang mewakili Provinsi Sumatera Selatan serta interdependensi faktor-faktor tersebut dengan basis perolehan suara pada pemilu 2019. Hasil pemilu 2019 menunjukkan bahwa perwakilan perempuan dari Sumatera Selatan di DPD RI berjumlah empat orang dengan persentase 100 %. Persentase electabilitas perempuan di Sumatera Selatan meningkat dibandingkan pemilu 2014 yang hanya sekitar 75 %, menjadikan daerah pemilihan ini yang tertinggi dalam representasi perempuan di Indonesia. Para perempuan terpilih merupakan kandidat pemula yang berhasil mengalahkan kandidat incumbent. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena pemilihan perempuan dalam kontestasi politik lokal dengan menganalisis data dari empat perempuan terpilih sebagai anggota legislatif DPD RI. Hasil studi mengindikasikan bahwa faktor kinship politik dan patron politik menjadi determinan utama electabilitas anggota DPD perempuan di Sumatera Selatan. Dari empat anggota terpilih, tiga dipengaruhi oleh kinship politik karena memiliki hubungan keluarga dengan elit lokal, sedangkan satu dipengaruhi oleh patron politik sebagai akademisi dan mantan pejabat publik. Faktor hubungan keluarga dengan elit lokal memengaruhi basis suara perempuan terpilih, yang terpusat pada wilayah kekuasaan elit tersebut, sementara basis suara anggota yang berkarier di PKH tersebar merata di seluruh provinsi.

Pemilihan anggota DPD perempuan yang mewakili Sumatera Selatan pada pemilu 2019 dipengaruhi oleh faktor kinship politik dan patron politik.Tiga dari empat anggota terpilih dipengaruhi oleh kinship politik melalui hubungan keluarga dengan elit lokal (sebagai suami, anak, menantu, atau keponakan), sedangkan satu anggota terpilih dipengaruhi oleh patron politik sebagai mantan Koordinator Regional PKH dan dosen.Hubungan keluarga tersebut menentukan basis suara perempuan terpilih yang berlokasi di wilayah kekuasaan elit lokal, sementara basis suara anggota yang berkarier di PKH tersebar merata di seluruh provinsi.

Saran penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada tiga arah utama. Pertama, melakukan penelitian komparatif tentang pengaruh kinship politik terhadap electabilitas perempuan di provinsi lain di Indonesia, guna menilai apakah pola hubungan keluarga dengan elit lokal yang terlihat di Sumatera Selatan merupakan fenomena umum atau bersifat kontekstual. Kedua, mengeksplorasi peran program patron politik seperti koordinasi PKH dalam memperluas basis suara perempuan terpilih, dengan mengkaji mekanisme distribusi bantuan sosial dan dampaknya terhadap persepsi pemilih di berbagai wilayah. Ketiga, menilai efektivitas kebijakan afirmatif dan sistem zipper dalam meningkatkan representasi perempuan selama beberapa siklus pemilu, melalui analisis longitudinal yang menggabungkan data pemilu 2014, 2019, dan 2024, serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat yang masih ada. Penelitian-penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai dinamika politik gender di Indonesia serta menawarkan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat. Hasil temuan diharapkan dapat memperkuat strategi peningkatan partisipasi politik perempuan secara berkelanjutan.

Read online
File size246.76 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test