UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

HUMANISMA : Journal of Gender StudiesHUMANISMA : Journal of Gender Studies

Budaya patriarki yang masih bertahan dalam masyarakat Indonesia tidak memungkinkan semua perempuan mendapatkan ruang aman, terutama perempuan penyintas. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan budaya patriarki di Kabupaten Banyuwangi dan sejarah Komunitas Kawan Puan Banyuwangi, serta menganalisis aktivitas mereka dalam membangun kesehatan mental, sehingga perempuan penyintas dapat memiliki ruang aman. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemeriksaan kegiatan Komunitas Kawan Puan Banyuwangi dalam menciptakan ruang aman melalui pengembangan mental perempuan penyintas. Pertanyaan penelitian ini meliputi apa itu budaya patriarki di Kabupaten Banyuwangi, bagaimana sejarah lahirnya Komunitas Kawan Puan Banyuwangi, dan bagaimana kegiatan Komunitas Kawan Puan Banyuwangi dalam membangun kesehatan mental, sehingga perempuan penyintas mendapatkan ruang aman? Metode penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan historis dalam Komunitas Kawan Puan Banyuwangi. Analisis menggunakan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Hasil penelitian menunjukkan adanya budaya patriarki di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2021, termasuk 38% kasus hubungan seksual, 12% kasus perbuatan cabul, 23% kekerasan psikologis, 19% kekerasan seksual, 4% kekerasan fisik, dan 4% penelantaran, yang mengakibatkan perempuan kekurangan akses terhadap ruang aman. Komunitas Kawan Puan Banyuwangi membangun kesehatan mental perempuan penyintas melalui kegiatan berbagi tanpa penilaian, pemberian bantuan psikologis bagi penyintas untuk memetakan masalah mereka secara tepat, dan menciptakan kebiasaan saling mendukung antarperempuan (women-support-women), yang merupakan kunci bagi ruang aman. Oleh karena itu, ruang aman perlu dibangun secara kolektif oleh berbagai pihak; semua pihak harus memiliki pengetahuan tentang cara melindungi perempuan.

Budaya patriarki di Kabupaten Banyuwangi telah terbukti menyebabkan perempuan kekurangan ruang aman, ditandai dengan tingginya kasus kekerasan seksual, psikologis, dan fisik pada tahun 2021.Komunitas Kawan Puan Banyuwangi berperan penting dalam menyediakan ruang aman bagi perempuan penyintas melalui pengembangan kesehatan mental, yang diwujudkan melalui pemberian rasa percaya diri, kebebasan berekspresi, bantuan psikologis, dan sistem dukungan tanpa penghakiman.Upaya komunitas ini mendorong perubahan perilaku positif dan menjadi kunci bagi perempuan untuk bangkit dari trauma, sekaligus menyarankan penelitian lanjutan tentang bentuk-bentuk ruang aman lainnya.

Berdasarkan temuan penelitian ini, terutama mengenai pentingnya ruang aman dan pengembangan kesehatan mental bagi perempuan penyintas di tengah budaya patriarki, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dieksplorasi untuk memperkuat upaya perlindungan perempuan. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi longitudinal yang lebih mendalam guna mengukur dampak jangka panjang dari kegiatan komunitas seperti Kawan Puan Banyuwangi terhadap kesehatan mental, kemandirian, dan pemberdayaan perempuan penyintas. Pertanyaan penelitian dapat berfokus pada: sejauh mana intervensi berbasis komunitas ini secara berkelanjutan meningkatkan kualitas hidup penyintas dan mencegah kekambuhan trauma, serta bagaimana keberlanjutan model dukungan ini dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun? Kedua, mempertimbangkan bahwa ruang aman perlu dibangun secara kolektif oleh berbagai pihak, penelitian selanjutnya bisa menyelidiki model kolaborasi efektif antara komunitas perempuan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan tokoh agama di Kabupaten Banyuwangi. Studi ini dapat mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam mengintegrasikan layanan pendampingan dan dukungan mental, memastikan bahwa ruang aman tidak hanya tersedia tetapi juga mudah diakses dan inklusif bagi semua perempuan yang membutuhkan, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil. Ketiga, mengingat akar masalahnya adalah budaya patriarki yang masih kuat, penelitian mendatang dapat mengkaji efektivitas program-program pendidikan dan kesadaran publik yang menargetkan perubahan norma gender di masyarakat umum, tidak hanya di kalangan penyintas. Bagaimana intervensi semacam ini dapat secara signifikan mengurangi insiden kekerasan terhadap perempuan dan menciptakan lingkungan sosial yang secara inheren lebih aman bagi semua, sehingga kebutuhan akan ruang aman sebagai respons terhadap kekerasan dapat berkurang seiring waktu karena pencegahan yang lebih kuat?.

  1. Vol. 4 No. 2 (2020): December 2020 | HUMANISMA : Journal of Gender Studies. vol december humanisma journal... ejournal.uinbukittinggi.ac.id/psga/issue/view/146Vol 4 No 2 2020 December 2020 HUMANISMA Journal of Gender Studies vol december humanisma journal ejournal uinbukittinggi ac psga issue view 146
  2. REKONSTRUKSI MASKULINITAS: MENGUAK PERAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN KESETARAAN GENDER | Wandi | Kafa`ah:... doi.org/10.15548/jk.v5i2.110REKONSTRUKSI MASKULINITAS MENGUAK PERAN LAKI LAKI DALAM PERJUANGAN KESETARAAN GENDER Wandi Kafa ah doi 10 15548 jk v5i2 110
  3. KESETARAAN GENDER TENTANG PENDIDIKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN | Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender.... journal.uinjkt.ac.id/index.php/psga/article/view/13436KESETARAAN GENDER TENTANG PENDIDIKAN LAKI LAKI DAN PEREMPUAN Jurnal Harkat Media Komunikasi Gender journal uinjkt ac index php psga article view 13436
Read online
File size771.7 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test