UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

HUMANISMA : Journal of Gender StudiesHUMANISMA : Journal of Gender Studies

Penelitian ini mengeksplorasi tema-tema literasi digital perempuan dalam konteks ekonomi digital yang terus berkembang. Literasi digital mencakup kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, pemahaman kritis terhadap informasi dan penggunaan media digital secara aman dan efektif. Literasi ini menjadi salah satu kunci penting untuk memenangkan persaingan di pasar bagi para pelaku ekonomi, termasuk bagi perempuan pekerja daring. Studi literatur ini menggunakan analisis deskriptif dengan perspektif politik ekonomi feminis yang menganalisis bagaimana hubungan kekuasaan, struktur sosial, dan ekonomi membentuk ketidaksetaraan gender dalam konteks pekerjaan dan teknologi. Analisis ini mengeksplorasi adanya kesenjangan penguasaan teknologi pada perempuan pekerja daring, dengan berfokus pada tantangan, peluang, dan kesenjangan keterampilan. Studi ini menunjukkan di era ekonomi digital, kecakapan teknologi menjadi salah satu kunci meningkatkan kesejahteraan perempuan. Namun, perempuan cenderung memiliki keterampilan teknologi yang lebih rendah dari laki-laki akibat struktur sosial budaya, teknologi bias gender, dan akses terhadap pendidikan. Kebijakan dan inisiatif untuk mendukung peningkatan literasi digital di kalangan perempuan pekerja daring perlu terus didorong agar perempuan mampu bersaing.

Dalam era digital, penguasaan teknologi menjadi komponen penting yang mempengaruhi kelangsungan hidup manusia, termasuk bagi perempuan.Dengan perkembangan teknologi internet, muncul peluang pekerjaan baru di berbagai bidang, yang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi.Pekerja lepas, baik full-time maupun part-time, sangat diuntungkan oleh teknologi karena memungkinkan mereka bekerja secara fleksibel dari mana saja.Teknologi ini memungkinkan perempuan melakukan pekerjaan tanpa terikat pada lokasi atau jam kerja tertentu, sehingga mereka dapat menyeimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.Ada pekerjaan baru yang muncul seiring dengan perkembangan ekonomi digital, seperti pencipta konten, penjual afiliasi, dan profesi lainnya yang menggunakan platform digital dalam proses transaksi dan pekerjaan, seperti terapis pijat, asisten virtual, dan sebagainya.Meskipun pekerjaan-pekerjaan ini terlihat sederhana, sebenarnya mereka membutuhkan keterampilan komunikasi dan penguasaan teknologi, seperti pemahaman teknik pemasaran digital, strategi konten, dan kemampuan menggunakan aplikasi media sosial dan platform live streaming.Pekerjaan-pekerjaan ini terbuka bagi pria dan wanita.Namun, kenyataannya, banyak perusahaan yang menargetkan wanita, terutama ibu rumah tangga, yang memiliki waktu luang lebih fleksibel dan lebih aktif di media sosial.Selain itu, banyak produk yang dipasarkan melalui live shopping atau program afiliasi ditujukan untuk konsumen wanita.Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi bukan hanya kebutuhan, tetapi juga membuka peluang pekerjaan bagi wanita di dunia digital.Hasil tinjauan literatur dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan utama yang menyebabkan rendahnya literasi digital perempuan adalah faktor-faktor sosial budaya, terbatasnya akses terhadap teknologi, dan rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi.Budaya patriarki yang kuat, terutama di daerah pedesaan, membatasi akses perempuan terhadap teknologi dan pengembangan keterampilan digital mereka.Selain itu, terbatasnya akses terhadap peralatan teknologi, baik infrastruktur maupun kepemilikan, juga memiliki dampak signifikan.Hal ini, dikombinasikan dengan rendahnya tingkat pendidikan formal di banyak wilayah, semakin memperlebar kesenjangan digital bagi perempuan.Akibatnya, perempuan kehilangan peluang besar untuk meningkatkan kualitas hidup mereka di ekonomi digital, di mana penguasaan teknologi adalah kunci untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mencapai kemerdekaan finansial.Kesenjangan literasi digital ini dapat diatasi melalui tindakan afirmatif yang mencakup penyediaan perangkat teknologi terjangkau dan pelatihan literasi digital yang memenuhi kebutuhan perempuan.Selain itu, kebijakan teknologi yang ramah perempuan, seperti beasiswa dan dukungan bagi perempuan yang mengejar karier di bidang teknologi, sangat penting untuk memperluas akses.Pemerintah, bisnis, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem inklusif di mana perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berinovasi di dunia digital.Dengan langkah-langkah ini, kesenjangan literasi digital dapat dikurangi dan perempuan dapat menjadi lebih kompetitif dan berkontribusi dalam ekonomi digital.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan:. . 1. Meneliti dampak dari pelatihan teknologi yang ramah perempuan dan bagaimana pelatihan tersebut dapat meningkatkan keterampilan digital perempuan, terutama di daerah pedesaan atau kelompok masyarakat dengan akses teknologi terbatas.. . 2. Menganalisis efektivitas kebijakan teknologi yang ramah perempuan, seperti beasiswa dan dukungan untuk perempuan yang mengejar karier di bidang teknologi, dalam memperluas akses dan mengurangi kesenjangan digital.. . 3. Mengkaji peran perusahaan dalam menciptakan lingkungan inklusif yang membantu perempuan merasa nyaman menggunakan teknologi, serta bagaimana perusahaan dapat memberikan pelatihan teknologi secara luas, baik untuk calon karyawan perempuan maupun masyarakat umum, untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam menghadapi dunia kerja digital.

Read online
File size273.82 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test