UIN BUKITTINGGIUIN BUKITTINGGI

HUMANISMA : Journal of Gender StudiesHUMANISMA : Journal of Gender Studies

Pengembangan perkebunan karet di Sumatra Timur selama periode kolonial menyerap banyak pekerja, termasuk perempuan. Dalam struktur kerja yang tidak setara, perempuan menduduki posisi yang paling rentan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman, ketidaksetaraan gender, dan strategi bertahan hidup pekerja perempuan di perkebunan karet selama periode kolonial. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber data berasal dari arsip kolonial seperti Memorie van Overgave, Staatsblad van Nederlandsch-Indie, Algeemene Secretarie, Koloniale Verslag, dan surat kabar. Studi ini menyoroti ketidakadilan yang dialami oleh pekerja perempuan, seperti upah rendah, jam kerja panjang, pemisahan dari keluarga, eksploitasi seksual, dan hukuman berat. Ketidaksetaraan gender tidak hanya terlihat dalam pembagian kerja, tetapi juga dari praktik eksploitatif sistemik yang tersembunyi di balik narasi produktivitas. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa relasi kekuasaan berbasis gender membentuk wajah ketidakadilan di perkebunan karet Sumatra Timur selama periode kolonial. Melalui studi kasus Women Behind Rubber, penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai dinamika gender dalam konteks ekonomi dan politik yang eksploitatif. Kontribusi utama penelitian ini adalah kemampuannya menghubungkan sejarah masa lalu dengan isu-isu kontemporer terkait kesetaraan gender dan hak-hak pekerja. Implikasinya sangat relevan dengan upaya kita saat ini dalam mengatasi ketidaksetaraan gender di sektor industri modern, serta mempromosikan kebijakan yang lebih inklusif dan pro-perempuan.

Perjuangan pekerja perempuan di perkebunan karet kolonial menunjukkan ketidaksetaraan ganda yang mereka hadapi sebagai kelas pekerja yang tertindas oleh sistem kolonial dan sebagai perempuan yang dibatasi oleh konstruksi sosial patriarki, yang memaksa mereka melakukan tugas produksi dalam kondisi sulit sambil juga mengelola beban rumah tangga.Mereka menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan sistemik, mulai dari diskriminasi upah, beban kerja yang tidak proporsional, pelecehan di tempat kerja, hingga pengabaian hak-hak reproduksi dan perlindungan sosial, memposisikan mereka sebagai tenaga kerja murah yang mudah dieksploitasi.Meskipun demikian, strategi bertahan hidup mereka meliputi pembentukan jaringan dukungan sesama pekerja, pengelolaan keuangan yang ketat, pemenuhan peran ganda, dan tindakan kolektif, merepresentasikan narasi ketahanan yang patut dihargai dan digunakan sebagai landasan perjuangan menuju keadilan gender dan lingkungan kerja yang lebih manusiawi.

Penelitian lanjutan dapat memperdalam pemahaman kita tentang pengalaman pekerja perempuan di perkebunan karet kolonial. Pertama, sebuah studi dapat mengeksplorasi secara lebih rinci bagaimana pekerja perempuan secara aktif menampilkan atau menentang konstruksi gender yang diberlakukan oleh sistem kolonial dan patriarkal. Ini bisa dilakukan dengan menganalisis praktik budaya sehari-hari, ekspresi identitas melalui pakaian atau seni, serta dinamika interaksi sosial di dalam barak, untuk mengungkap bentuk agensi yang lebih halus di luar perlawanan terbuka. Pertanyaan penelitian dapat mencakup: Bagaimana pekerja perempuan di perkebunan karet Sumatra Timur menggunakan praktik budaya dan interaksi sosial untuk menegosiasikan atau menantang peran gender yang ditetapkan selama periode kolonial? Kedua, perlu diteliti lebih lanjut bagaimana strategi bertahan hidup yang dikembangkan oleh perempuan, seperti pengelolaan keuangan mikro atau jaringan dukungan sesama pekerja, berkontribusi terhadap pengembangan kepemimpinan perempuan dan perubahan peran gender dalam komunitas pasca-kolonial. Hal ini akan memperkaya narasi tentang dampak jangka panjang dari perjuangan mereka. Pertimbangan bisa diberikan pada: Bagaimana strategi ekonomi dan sosial pekerja perempuan kolonial membentuk fondasi bagi agensi dan perubahan peran gender dalam komunitas perkebunan di era selanjutnya? Ketiga, sangat menarik untuk menyelidiki potensi pembentukan solidaritas antar-etnis di kalangan pekerja perempuan dari latar belakang Jawa, Tionghoa, atau lainnya, terutama dalam menghadapi eksploitasi seksual dan kondisi kerja yang menindas. Fokus dapat ditempatkan pada bagaimana pengalaman gender yang serupa mungkin telah menciptakan ikatan unik yang melampaui pembagian etnis yang dipelihara oleh administrasi kolonial. Pertanyaan yang relevan adalah: Apakah pengalaman bersama ketidakadilan gender memupuk solidaritas trans-etnis di antara pekerja perempuan di perkebunan karet kolonial Sumatra Timur, dan bagaimana hal itu bermanifestasi? Melalui pendekatan ini, kita dapat menggali lapisan kompleksitas yang belum terungkap dari sejarah perempuan di perkebunan.

  1. Kasetsart Journal. kasetsart journal kasetsartjournal.ku.ac.th/abstractShow.aspx?param=YXJ0aWNsZUlEPTgzMzl8bWVkaWFJRD04OTA1Kasetsart Journal kasetsart journal kasetsartjournal ku ac th abstractShow aspx param YXJ0aWNsZUlEPTgzMzl8bWVkaWFJRD04OTA1
  2. Women in the Middle of the Wild Life in the East Sumatra Plantation 1880-1940 | HUMANISMA : Journal of... ejournal.uinbukittinggi.ac.id/psga/article/view/6276Women in the Middle of the Wild Life in the East Sumatra Plantation 1880 1940 HUMANISMA Journal of ejournal uinbukittinggi ac psga article view 6276
Read online
File size371.98 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test