STIE AUBSTIE AUB

ExcellentExcellent

Kemiskinan dapat diakibatkan oleh beberapa keadaan, termasuk kondisi ekonomi dan lingkungan yang disebabkan oleh kelangkaan sumber daya alam, kekurangan manusia dan sumber daya lainya yang membuat produksi relatif rendah dan tidak mampu memberikan kontribusi untuk pengentasan kemiskinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh indeks pertumbuhan manusia (IPM), pengangguran, terhadap kemiskinan di Indonesia, serta konsumsi energi sebagai variabel mediasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh provinsi di Indonesia yang berjumlah 38 provinsi. Metode yang digunakan dalam penarikan sampel ini adalah sampling jenuh atau sensus, sehingga penulis mengambil 100% jumlah populasi yang ada yaitu sebanyak 38 provinsi di Indonesia. Hasil uji mediasi dengan uji Sobel menemukan bahwa tidak ada efek mediasi dari konsumsi listrik di hubungan antara indeks pembangunan manusia dan pengangguran. Artinya konsumsi listrik kurang mampu menjembatani indeks pertumbuhan manusia dan pengangguran di Indonesia.

Penelitian menunjukkan bahwa IPM tidak berpengaruh signifikan terhadap konsumsi energi, sementara pengangguran berpengaruh positif signifikan, dan tidak ada efek mediasi konsumsi energi antara IPM dan kemiskinan.Temuan ini memberikan implikasi teoritis tentang hubungan IPM, pengangguran, konsumsi energi, dan pertumbuhan ekonomi, serta menyarankan pemerintah memperhatikan zona pertumbuhan dan instalasi energi untuk industri.Penelitian terbatas pada data tiga tahun (2019‑2021) dan sampel provinsi, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan periode waktu lebih panjang serta analisis modal rumah tangga dan elektrifikasi sektor industri.

Saran penelitian lanjutan pertama adalah melakukan analisis longitudinal selama sepuluh tahun terakhir untuk mengevaluasi bagaimana perubahan Indeks Pembangunan Manusia dan tingkat pengangguran mempengaruhi laju kemiskinan, terutama setelah masa pandemi COVID‑19. Kedua, diperlukan studi komparatif yang menelaah peran konsumsi energi terbarukan sebagai variabel mediasi antara IPM, pengangguran, dan kemiskinan, sehingga dapat mengidentifikasi apakah energi bersih dapat memperkuat efek positif pengurangan kemiskinan. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat memfokuskan pada perbedaan regional dengan mengkaji faktor‑faktor rumah tangga seperti kepemilikan aset listrik dan akses infrastruktur industri, untuk memahami bagaimana elektrifikasi sektor industri berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan penurunan kemiskinan di provinsi‑provinsi dengan tingkat kemiskinan tinggi. Semua saran tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan temporal, memperdalam pemahaman mekanisme mediasi energi, dan memberikan insight kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia.

Read online
File size535.04 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test