MARANATHAMARANATHA

Journal of Medicine and HealthJournal of Medicine and Health

Pneumonia dapat didefinisikan sebagai kondisi ketika suatu mikroorganisme memicu peradangan pada parenkim paru. Bronkiolus dan alveoli akan terisi oleh eksudat leukosit inflamasi dan cairan sehingga menyebabkan kesulitan pernapasan dan gejala seperti batuk, produksi sputum, dispnea, nyeri dada, dan disfungsi pernapasan dan/atau syok pada kasus yang parah. Infeksi pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dapat diobati dengan antibiotik. Pola bakteri dan hasil uji sensitivitas yang tersedia di rumah sakit digunakan sebagai pedoman dalam memilih terapi empiris yang diberikan kepada pasien. Keterbatasan diagnostik dalam membedakan patogen virus dan bakteri pada pneumonia telah menyebabkan peningkatan penggunaan antibiotik dan berkontribusi terhadap pertumbuhan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik terhadap resistensi pasien pneumonia di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka described pada tahun 2022. Observasi deskriptif dengan metode cross‑sectional digunakan untuk memeriksa rekam medis pasien pneumonia. Antibiotik yang biasa digunakan oleh pasien yang terdiagnosis pneumonia di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya pada tahun 2022 adalah Moxifloxacin sebanyak 153 pasien (22 आली 53%), kemudian Levofloxacin sebanyak 143 pasien (21,06%), dan Ceftriaxone sebanyak 137 pasien (20,18%). Total defined daily dose/100 hari pemberian antibiotik pada pasien pneumonia adalah 88,85 dan menurut kriteria Gyssens penggunaan antibiotik rasional 82,62%.

Doris Sylvanus Palangka Raya tahun 2022 umumnya dinyatakan diperlakukan dengan Ceftriaxone, Moxifloxacin, dan Levofloxacin, dengan total DDD/100 hari rawat inap sebesar 88,85 dan 82,62 % penggunaan antibiotik dinilai rasional menurut kriteria Gyssens.Berdasarkan temuan ini, disarankan melakukan penelitian lanjutan pada periode berbeda untuk perbandingan pola penggunaan antibiotik yang lebih komprehensif.Penelitian lebih lanjut juga perlu mengeksplorasi hubungan antara penggunaan antibiotik dan hasil pasien guna menyediakan pemahaman lebih mendalam tentang efektivitas pengobatan dan mengoptimalkan praktik klinis.

Pertama, lakukan studi longitudinal yang meliputi data rawat inap dan rawat jalan pasien pneumonia selama 3–5 tahun, sehingga dapat dianalisis tren penggunaan antibiotik, pergeseran pola, dan perkembangan resistensi terhadap antibiotik utama yang sering digunakan. Analisis ini akan menyajikan gambaran evolusi penggunaan dan membantu menentukan periode kritis di mana intervensi diperlukan. Kedua, implementasikan program edukasi berbasis antimikroba bagi tenaga kesehatan dan pasien, yang menekankan pemilihan antibiotik empiris, durasi terapi yang tepat, serta monitoring hasil dan efek samping; evaluasi keberhasilannya dapat menggunakan kriteria Gyssens sebelum dan sesösher intervensi, memberikan data kuantitatif tentang peningkatan rasionalitas. Ketiga, integrasikan data hasil uji sensitivitas mikroorganisme pneumonia secara real‑time ke protokol klinik, sehingga resep dapat disesuaikan dengan profil resistensi lokal dan meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik, sekaligus menurunkan penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Dengan demikian, kombinasi tiga pendekatan ini dapat menciptakan sistem penanganan pneumonia yang lebih efektif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika resistensi.

Read online
File size296.41 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test