PCIJOURNALPCIJOURNAL

International Archives of Medical Sciences and Public HealthInternational Archives of Medical Sciences and Public Health

Pendahuluan: Insiden keselamatan pasien merupakan kejadian tidak disengaja dan kondisi yang berpotensi menyebabkan cedera dapat dicegah pada pasien, sehingga dapat memengaruhi tingkat insiden selama rawat inap. Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisis tingkat insiden pada unit rawat inap berdasarkan enam elemen tujuan keselamatan pasien di rumah sakit. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross‑sectional, menggunakan teknik sampling saturasi terhadap 80 responden. Hasil: Analisis chi‑square menunjukkan bahwa identifikasi pasien dengan benar (p = 0.002 < 0.05), komunikasi efektif (p = 0.002 < 0.05), dan peningkatan keamanan obat (p = 0.046 < 0.05) serta pengurangan risiko cedera akibat jatuh (p = 0.016 < 0.05) berhubungan signifikan dengan tingkat insiden, sedangkan memastikan lokasi dan prosedur bedah yang benar (p = 0.444 > 0.05) serta pengurangan risiko infeksi (p = 0.166 > 0.05) tidak berpengaruh signifikan. Kesimpulan: Variabel identifikasi pasien yang tepat, komunikasi efektif, keamanan obat, dan pengurangan risiko jatuh memengaruhi tingkat insiden rawat inap, sementara variabel lokasi prosedur dan risiko infeksi tidak berpengaruh.

Penelitian menunjukkan bahwa identifikasi pasien yang benar, komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat, dan upaya mengurangi risiko jatuh memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat insiden di unit rawat inap.Sebaliknya, variabel memastikan lokasi dan prosedur operasi yang tepat serta pengurangan risiko infeksi tidak menunjukkan pengaruh signifikan.Dari hasil tersebut, faktor paling berpengaruh terhadap tingkat insiden adalah identifikasi pasien yang tepat dan komunikasi efektif.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki efektivitas program pelatihan identifikasi pasien berbasis teknologi barcode dalam mengurangi kesalahan identifikasi pada unit rawat inap; penelitian ini dapat dirumuskan sebagai pertanyaan apakah penggunaan sistem barcode meningkatkan akurasi identifikasi pasien dibandingkan metode manual. Selain itu, diperlukan studi longitudinal untuk mengevaluasi dampak program komunikasi interprofesional yang terstandarisasi terhadap frekuensi insiden keselamatan pasien, dengan fokus pada apakah peningkatan komunikasi tim medis menurunkan angka insiden secara berkelanjutan. Selanjutnya, penelitian kualitatif dapat menggali persepsi tenaga kesehatan terhadap penggunaan obat berisiko tinggi serta strategi mitigasi yang paling efektif, sehingga dapat menjawab pertanyaan bagaimana faktor perilaku dan lingkungan kerja mempengaruhi kepatuhan terhadap protokol keamanan obat. Kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat dalam meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit.

Read online
File size296.89 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test