UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Klenteng merupakan tempat ibadah bagi orang-orang Tionghoa yang memeluk agama Buddha, Taoisme, dan Konghucu, yaitu sebagai sarana bagi mereka untuk melakukan peribadatan/komunikasi dengan Tuhan, Dewa-dewi, serta roh para leluhur mereka. Bangunan kelenteng termasuk dalam bangunan Arsitektur Cina, sehingga dalam tatanan bentuk bangunannya masih mempergunakan kaidah feng shui. Konsep feng shui adalah seni hidup dalam keharmonisan dengan alam, sehingga seseorang yang menerapkan tatanan ini mendapatkan keuntungan, ketenangan, dan kemakmuran dari keseimbangan yang sempurna dengan alam. Kaitannya dengan bangunan Klenteng adalah mengenai penataan, pemilihan warna, bentuk, serta ornamentasi. Dalam penelitian ini akan mengkaji arsitektur Feng shui pada Klenteng Tiao Kak Sie serta makna ornamentasi yang ada pada klenteng ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan metodologi observasi lapangan dan literatur, Analisa hasil-hasil temuan, serta interpretasi. Dari hasil analis maka dapat disimpulkan bahwa Klenteng Tiao Kak Sie adalah bangunan tradisional cina, dimana dari bentuk bangunan masih mempertahankan bentuk asli. Terdapat beberapa elemen penting dalam bangunan seperti halaman depan, altar dewa, impluvium, jangkar raksasa, serta cetiya. Elemen-elemen pada bangunan tersebut memiliki fungsi sebagai simbolis religious bagi umat budha tionghoa serta bukti sejarah bagi masyarakat Cirebon.

Klenteng Tiao Kak Sie merupakan salah satu klenteng bersejarah dan tertua di Cirebon.Bangunan ini menerapkan bangunan tradisional cina dimana bentuk, penataan, dan ornamentasi bangunan menggunakan kaidah feng shui.Dari segi fungsi dan bangian bangunan, area Klenteng Tiao Kak Sie ini dibagi menjadi beberapa blok bangunan, seperti halaman depan, altar dewa, impluvium, serambi, area jangkar raksasa, cetiya, dan sebagainya.Dari segi elemen bangunan, atap klenteng Tiao Kak Sie menggunakan bentuk jurai pelana dengan bubungan melengkung serta penambahan ragam hias ornament naga.Konstruksi yang digunakan masih menggunakan kayu yang difinishing dengan warna merah dan ukiran-ukiran khas flora dan fauna.Pada dinding bangunan juga didominasi warna merah.Beberapa dinding dihias dengan berbagai ornament seperti lukisan, pahatan timbul, dan lubang-lubang angin dengan bentuk awal yang melingkar-lingkar.Pada lantai bangunan, warna keramik merah digunakan untuk ruang-ruang utama seperti ruang altar, sedangkan pada halaman menggunakan keramik warna abu-abu.Sedangkan dalam hal ornamentasi, pada arsitektur tradisional cina dibagi menjadi beberapa jenis ornament, yaitu ornament flora, fauna, serta manusia/dewa.Ornamen-ornamen tersebut bisa berupa lukisan, pahatan, maupun patung-patung simbolik.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh feng shui pada arsitektur klenteng di Cirebon, khususnya dalam hal penataan ruang dan pemilihan warna. Kedua, dapat dilakukan studi komparatif antara klenteng-klenteng di Cirebon dengan klenteng-klenteng di daerah lain, seperti Lasem, Rembang, dan Semarang, untuk melihat perbedaan dan kesamaan dalam penerapan arsitektur feng shui. Ketiga, dapat dilakukan penelitian tentang makna dan simbolisme ornamentasi pada klenteng, khususnya dalam hal filosofi dan sejarah budaya Tionghoa di Cirebon.

Read online
File size668.09 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test