UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Urban farming tidak hanya menjadi strategi ketahanan pangan perkotaan, tetapi juga pendekatan spasial dalam menata ruang mikro di kawasan padat penduduk. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi urban farming dalam optimalisasi ruang sempit melalui pendekatan arsitektur mikro dan pemberdayaan komunitas. Lokasi penelitian adalah Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan, yang memiliki karakter spasial padat dan terbatas namun aktif mengembangkan kebun komunitas berbasis rumah tangga. Pendekatan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus digunakan untuk mengidentifikasi pola adaptasi ruang dan transformasi fungsi ruang residual menjadi produktif secara ekologis dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urban farming berperan sebagai penghubung antar-ruang, media ekologis pasif, serta wadah rekreasi mikro komunitas. Penataan ruang mikro dilakukan melalui partisipasi warga dikoordinir oleh tim penggerak PKK, pemrograman urban farming berbasis komunitas, dengan pengelolaan air limbah rumah tangga sederhana. Penelitian ini memperkuat urgensi integrasi arsitektur lanskap mikro dan strategi ketahanan komunitas dalam penataan ruang kota yang berkelanjutan dengan pendekatan urban farming.

Urban farming di Kelurahan Bukit Duri terbukti efektif dalam revitalisasi ruang kota dan pemberdayaan komunitas perempuan melalui partisipasi aktif TP PKK, menghasilkan ruang produktif yang meningkatkan ketahanan pangan, kualitas lingkungan, dan solidaritas sosial.Dukungan berkelanjutan dari pemerintah kota dan mitra pendamping diperlukan untuk memperluas model serupa ke RT/RW lain di Jakarta.Pendekatan berbasis komunitas, adaptif, dan partisipatif menjadikan ruang-ruang mikro menjadi infrastruktur hijau yang meningkatkan kualitas hidup warga, menegaskan urban farming sebagai strategi arsitektural inklusif dan berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat memfokuskan pada studi longitudinal untuk mengukur dampak urban farming terhadap kualitas udara dan suhu mikro selama beberapa tahun, sehingga dapat menilai kontribusi jangka panjang terhadap mitigasi pulau panas perkotaan; selanjutnya, diperlukan analisis komparatif antara model urban farming berbasis PKK dengan model berbasis teknologi vertikal (misalnya hidroponik atau aquaponik) di lingkungan dengan variasi sosial‑ekonomi, guna mengevaluasi faktor keberhasilan, keterbatasan, dan skalabilitas masing‑masing pendekatan; terakhir, penelitian dapat mengembangkan kerangka ekonomi berkelanjutan yang mengintegrasikan pengelolaan limbah rumah tangga, produksi kompos, dan rantai pasok pasar lokal, sehingga urban farming tidak hanya berfungsi sebagai sarana ketahanan pangan tetapi juga sebagai motor ekonomi mikro yang memberdayakan perempuan dan meningkatkan kesejahteraan komunitas.

  1. PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI PUNGGUNG PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PMB D KOTA... doi.org/10.55681/sentri.v2i2.504PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI PUNGGUNG PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PMB D KOTA doi 10 55681 sentri v2i2 504
  2. Bot Verification. bot verification verifying robot doi.org/10.36441/seoi.v2i2.491Bot Verification bot verification verifying robot doi 10 36441 seoi v2i2 491
Read online
File size451.25 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test