KPUKPU

Electoral Governance Jurnal Tata Kelola Pemilu IndonesiaElectoral Governance Jurnal Tata Kelola Pemilu Indonesia

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penyelenggaraan Pemilu di Madura yang mengalami anomali profesionalisme. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami fenomena tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam (in-depth interview). Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis kedaerahan, taksonomi, komponensial, dan tema kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali profesionalisme dalam penyelenggaraan Pemilu di Madura disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor internal mencakup hubungan emosional penyelenggara dengan kontestan politik, kepentingan balas budi, dan godaan politik transaksional. Kedua, faktor eksternal melibatkan tekanan dari elit lokal seperti tokoh agama melalui mimbar-mimbar keagamaan dan privilage-nya, pengusaha melalui sogokan, balater melalui ancaman keselamatan atau teror fisik, serta intervensi politisi janji-janji posisi strategis. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi perbaikan sistem Pemilu di masa depan dan mengurangi pengaruh negatif elit lokal terhadap proses demokrasi.

Anomali profesionalisme dalam penyelenggaraan Pemilu di Madura disebabkan oleh faktor internal seperti kepentingan balas budi, kedekatan emosional, dan politik transaksional, yang secara kolektif mengikis objektivitas dan integritas penyelenggara.Selain itu, dominasi elit lokal, termasuk tokoh agama, balater, pengusaha, dan politisi, menciptakan tekanan eksternal signifikan yang memaksa penyelenggara mengesampingkan standar profesionalisme.Intervensi internal dan eksternal ini secara serius mengancam keadilan, transparansi, serta kredibilitas Pemilu dan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi secara keseluruhan.

Melihat temuan penelitian yang menyoroti anomali profesionalisme penyelenggaraan Pemilu akibat faktor internal dan dominasi elit lokal di Madura, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik. Pertama, perlu adanya studi komparatif yang mengkaji efektivitas program pelatihan etika dan independensi bagi penyelenggara Pemilu di berbagai daerah dengan karakteristik sosial dan budaya politik yang berbeda. Penelitian ini dapat membandingkan keberhasilan metode pelatihan yang berbeda dalam membangun ketahanan penyelenggara terhadap tekanan internal seperti kepentingan balas budi dan relasi emosional, serta tekanan eksternal dari elit lokal. Kedua, studi dapat diperluas untuk mengukur secara kuantitatif dampak dari implementasi mekanisme pengawasan independen yang melibatkan masyarakat sipil secara lebih aktif, serta sistem pelaporan pelanggaran yang aman dan anonim. Ini penting untuk memahami seberapa besar kontribusi pengawasan dari luar terhadap peningkatan integritas dan transparansi proses Pemilu di tingkat yang lebih luas, tidak hanya di Madura. Ketiga, mengingat kuatnya pengaruh budaya dan tokoh lokal yang diungkapkan dalam penelitian ini, sangat relevan untuk melakukan studi longitudinal yang meneliti dampak jangka panjang dari kampanye edukasi publik yang berkelanjutan. Kampanye ini tidak hanya menargetkan pemilih, tetapi juga elit lokal dan penyelenggara, untuk melihat apakah peningkatan kesadaran tentang pentingnya integritas demokrasi dapat secara signifikan mengubah pola interaksi dan mengurangi praktik intervensi yang merusak profesionalisme Pemilu dari waktu ke waktu. Dengan pendekatan-pendekatan ini, diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih kuat untuk menciptakan sistem Pemilu yang benar-benar adil dan berintegritas di seluruh Indonesia.

Read online
File size313.65 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test