UNMUNM

Jurnal Psikologi Pendidikan dan KonselingJurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional siswa non-disabilitas terhadap dukungan teman sebaya bagi siswa disabilitas di SMP inklusi Kota Semarang. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode multi-stage sampling, penelitian melibatkan 234 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling untuk kriteria subjek dan simple random sampling untuk lokasi penelitian. Data dikumpulkan secara langsung menggunakan skala kecerdasan emosional dan skala dukungan teman sebaya, kemudian dianalisis dengan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap dukungan teman sebaya (t=10,912; p<0,001) dengan nilai R² sebesar 0,339. Hal ini menunjukkan kontribusi variabel kecerdasan emosional sebesar 33,9% terhadap dukungan teman sebaya. Temuan menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional merupakan determinan kunci dalam menciptakan interaksi sosial yang suportif di sekolah inklusi.

Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap dukungan teman sebaya di antara siswa tanpa disabilitas di SMP inklusi di Kota Semarang.Sebagian besar peserta berada dalam kategori tinggi baik untuk kecerdasan emosional (46,2%) maupun dukungan teman sebaya (52,6%).Meskipun kecerdasan emosional hanya menyumbang 33,9% dari variasi variabel dependen, sisanya 66,1% dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar model penelitian, seperti iklim sekolah, peran konselor sekolah, ketersediaan guru pendidikan khusus, dan praktik pengasuhan yang menumbuhkan empati di rumah.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan agar sekolah dan konselor sekolah menerapkan intervensi praktis yang berbasis Social-Emotional Learning (SEL), seperti mengintegrasikan praktik pembangunan empati atau diskusi singkat tentang regulasi emosi dalam sesi homeroom. Selain itu, sekolah dapat menerapkan bentuk sederhana dari Peer-Mediated Intervention dengan mengatur rencana tempat duduk yang bergantian atau kelompok kolaboratif yang melibatkan siswa tanpa disabilitas dan teman sebayanya yang memiliki disabilitas, sehingga memungkinkan dukungan teman sebaya berkembang secara alami. Para peneliti juga dapat memperluas variabel penelitian dengan memasukkan faktor lingkungan, melibatkan lebih banyak sekolah, dan menggunakan metode wawancara kualitatif untuk mengeksplorasi dinamika interaksi sosial yang sebenarnya di lingkungan sekolah inklusi.

Read online
File size510.99 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test