UNITRIUNITRI

BUANA SAINSBUANA SAINS

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan lima isolat jamur antagonis dalam menghambat pertumbuhan jamur Colletotrichum gloeosporioides, penyebab penyakit antraknosa pada cabai rawit. Metode yang digunakan adalah uji in vitro dengan rancangan acak lengkap. Hasil menunjukkan bahwa isolat jamur antagonis Trichoderma sp. memiliki daya hambat tertinggi (74%) terhadap C. gloeosporioides. Tiga isolat jamur antagonis, yaitu Aspergillus sp., Gliocladium sp., dan Trichoderma sp., memiliki mekanisme antagonisme terhadap C. gloeosporioides, yaitu kompetisi, antibiosis, dan parasitisme. Selain itu, isolat Gliocladium sp., Nigrospora sp., dan Trichoderma sp. juga memiliki kemampuan parasitisme, sedangkan Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Trichoderma sp. memiliki mekanisme antibiosis terhadap C. gloeosporioides.

menunjukkan kemampuan daya hambat paling tinggi yaitu 74% dibanding isolat lain, dengan mekanisme utama berupa kompetisi serta indikasi parasitisme dan antibiosis.juga terbukti potensial, masing-masing melalui kombinasi mekanisme kompetisi–parasitisme dan kompetisi–antibiosis.tetap berpeluang dikembangkan karena diduga menghasilkan mekanisme yang menyebabkan lisis hifa patogen.) berpotensi dikembangkan sebagai agens hayati pengendali antraknosa pada cabai rawit untuk mendukung budidaya yang ramah lingkungan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam mengenai mekanisme antibiosis dan parasitisme yang digunakan oleh jamur antagonis terhadap C. gloeosporioides. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang dihasilkan oleh jamur antagonis dan menguji efektivitasnya dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada cabai rawit. Studi ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode in vitro dan in vivo untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan jamur antagonis sebagai agens hayati pengendali penyakit.

Read online
File size492.58 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test