PENERBITPENERBIT

Jurnal Penelitian Agama HinduJurnal Penelitian Agama Hindu

Balian Desa, seorang pemimpin ritual keagamaan yang dipercaya oleh masyarakat Bali Aga, khususnya Desa Pedawa. Posisi Balian Desa memiliki tugas dan tanggung jawab vital dalam memimpin prosesi ritual keagamaan masyarakat Bali Aga. Dalam perspektif sosiologi, posisi Balian Desa memiliki otoritas tertinggi dalam hal ritual keagamaan yang dilaksanakan di Desa Pedawa, dengan kekuatan hegemoni yang sangat besar dan memberikan pengaruh kuat dalam kelangsungan kehidupan masyarakat dari segi aktivitas ritual keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekuatan hegemoni yang dimiliki oleh seorang Balian Desa dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang berpengaruh kepada masyarakat, khususnya di Desa Pedawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang Balian Desa memiliki pengaruh besar dalam bentuk hegemoni pada aktivitas ritual Hindu di Desa Pedawa. Hal ini terlihat karena Balian Desa dipilih secara niskala dan melalui prosesi sakral, serta dapat melegitimasi setiap ritual keagamaan. Selain itu, hegemoni Balian Desa yang mempengaruhi masyarakat sangat kuat melalui ideologi, bahasa, serta folklor yang memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sosok Balian Desa, yang berdampak pada implikasi sosioreligi kehidupan masyarakat Desa Pedawa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, Balian Desa memiliki posisi yang kuat karena dipilih secara niskala dalam aspek ritual, dari segi hegemoni, Balian Desa mempengaruhi ideologi masyarakat melalui bentuk bahasa, simbol sakral, dan kepercayaan (folklor) yang menjadikan posisinya sangat kuat, serta hegemoni ini akan berdampak pada kehidupan sosioreligi masyarakat Desa Pedawa.

Kedudukan Balian Desa di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memiliki legitimasi kuat yang didasarkan pada empat faktor utama, proses pemilihan melalui niskala, keharusan berasal dari garis keturunan Yos Gunung Agung, proses penobatan yang sakral, serta peran dalam menentukan sah atau tidaknya upacara yadnya.Dalam konteks teori Otoritas Dahrendorf, Balian Desa merupakan pemegang otoritas penuh atas pelaksanaan ritual, sementara krama Desa Adat Pedawa berada di bawah kuasanya.Balian Desa juga dianggap sebagai pemegang mandat religius-magis dari Ida Panembahan, yang memberikan wewenang untuk memimpin ritual dan mengesahkan upacara keagamaan.Hegemoni ini membuat masyarakat mematuhi sepenuhnya otoritas Balian Desa tanpa konflik, karena posisi ini diyakini sebagai perantara penting dalam menjaga keharmonisan tradisi religius.Hegemoni Balian Desa dalam ritual keagamaan mencakup dominasi ideologi, bahasa, dan folklor yang memperkuat pengaruhnya di masyarakat.Sebagai tokoh yang dihormati, Balian Desa tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga agen penyebaran nilai-nilai budaya Bali Aga melalui tradisi lisan dan cerita turun-temurun.Penggunaan bahasa simbolis oleh Balian Desa dipercaya mampu membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.Proses pemilihan Balian Desa melalui pewahyuan menunjukkan eksklusivitas jabatan ini, mempertegas legitimasi dan norma yang diterima masyarakat tanpa perlawanan.Implikasi dari hegemoni ini adalah pelestarian tradisi lokal di tengah modernisasi, sehingga struktur sosioreligi Desa Pedawa tetap kokoh dalam identitas aslinya.Hegemoni Balian Desa di Desa Pedawa memperkuat dominasi nilai-nilai adat, mengintegrasikan kekuasaan tradisional dengan struktur negara, serta mempertahankan kestabilan sosial melalui kontrol spiritual dan sosial yang terpusat pada figur pemimpin agama.

Berdasarkan analisis teori tindakan beralasan, hegemoni Balian Desa di Pedawa membentuk sistem perilaku yang didasarkan pada evaluasi tindakan sebelumnya, menciptakan pola perilaku masyarakat yang patuh pada keputusan Balian Desa. Hegemoni ini juga menjaga adat istiadat Desa Pedawa di tengah modernisasi dan globalisasi, dengan posisi Balian Desa yang dipercaya sebagai pewahyuan. Saran penelitian lanjutan adalah: 1. Menganalisis lebih dalam faktor-faktor yang memperkuat kedudukan Balian Desa dalam pelaksanaan ritual, termasuk peran ideologi, bahasa, dan folklor dalam hegemoni. 2. Mengkaji implikasi hegemoni Balian Desa terhadap kehidupan sosioreligi masyarakat Pedawa, khususnya dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual di tengah perubahan zaman. 3. Meneliti lebih lanjut tentang proses pemilihan Balian Desa melalui niskala dan pengaruhnya terhadap legitimasi dan norma sosial di masyarakat Pedawa.

Read online
File size562.13 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test