IAIN KEDIRIIAIN KEDIRI

IREELL: Indonesian Review of English Education, Linguistics, and LiteratureIREELL: Indonesian Review of English Education, Linguistics, and Literature

Penelitian ini menganalisis realisasi strategi kepatutan dalam subtitle Indonesia-Inggris dari film Sang Kiai, dengan fokus pada bagaimana hubungan otoritas dan kekuasaan antara Kiai Hasyim Asyari dan santrinya di Pesantren Tebu Ireng direpresentasikan dalam terjemahan. Menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan etnografis, studi ini menganalisis 49 ucapan yang diambil dari interaksi antara Kiai Hasyim Asyari dan santrinya dalam teks sumber dan target menggunakan kerangka politeness Brown dan Levinson. Temuan mengungkapkan adanya tiga pola berulang: (1) preservasi strategi kepatutan, (2) pergeseran strategi kepatutan, dan (3) preservasi strategi dengan pergeseran sub-strategis. Pola dominan adalah preservasi strategi kepatutan, khususnya dalam penggunaan bald on record dan positive politeness, yang mencerminkan otoritas institusional Kiai Hasyim Asyari. Studi ini menunjukkan bahwa subtitling secara besar-besaran mempertahankan ketidaksimetrisan kekuasaan yang melekat dalam diskursus pesantren, yang menunjukkan bahwa otoritas berfungsi sebagai dasar kunci dalam realisasi dan terjemahan strategi kepatutan.

Penelitian ini menyelidiki realisasi strategi kepatutan dalam interaksi antara kiai dan santri dalam subtitle Indonesia-Inggris film Sang Kiai.Berdasarkan analisis 49 ucapan, ditemukan bahwa sebagian besar strategi kepatutan dipertahankan dalam teks target, dengan fokus pada positive politeness dan bald on record.Hal ini mencerminkan otoritas institusional yang dipegang oleh Kiai Hasyim Asyari dan menegaskan bahwa dinamika kekuasaan sangat berpengaruh terhadap perilaku linguistik dalam diskursus pesantren.Penelitian ini juga menunjukkan bahwa subtitling berfungsi sebagai bentuk mediasi pragmatis, memastikan bahwa peran Kiai Hasyim Asyari sebagai pemimpin agama tetap utuh meskipun terjadi pergeseran linguistik dan budaya.Namun, meskipun strategi kepatutan dipertahankan, nuansa interpersonal otoritas mungkin mengalami rekonfigurasi ringan akibat hilangnya penanda budaya.Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kepatutan dalam terjemahan audiovisual, khususnya dalam konteks pesantren, erat kaitannya dengan kekuasaan dan peran institusional.Teori politeness Brown dan Levinson terbukti menjadi model efektif dalam menjelaskan bagaimana otoritas melegitimasi langsung dan membentuk pilihan terjemahan.

Saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan dari paper ini adalah: (1) Menganalisis lebih lanjut pergeseran strategi kepatutan dalam subtitling, khususnya dalam konteks budaya dan agama yang berbeda. (2) Menjelajahi bagaimana subtitler menavigasi dan memitigasi strategi kepatutan dalam percakapan yang melibatkan kiai, dan bagaimana pilihan mereka mencerminkan Skopos terjemahan serta prioritas fungsional subtitling sebagai praktik komunikasi. (3) Mengkaji peran kepatutan dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan moral dalam terjemahan audiovisual, khususnya dalam film-film yang menggambarkan kehidupan pesantren.

  1. Vol. 2 No. 1 (2025): Journal of Pedagogi - February | Journal of Pedagogi. vol journal pedagogi february... doi.org/10.62872/j1hydk82Vol 2 No 1 2025 Journal of Pedagogi February Journal of Pedagogi vol journal pedagogi february doi 10 62872 j1hydk82
Read online
File size323.65 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test