ACEHPROVACEHPROV

Journal of Medical ScienceJournal of Medical Science

Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofita yang menyerang jaringan yang mengandung keratin (zat tanduk) seperti stratum korneum pada epidermis kulit, rambut dan kuku. Salah satu faktor predisposisi dermatofitosis ialah Diabetes Melitus (DM). Tingginya kadar glukosa darah pada penderita diabetes menyebabkan meningkatnya glukosa kulit yang dapat mengganggu proses imun dan menyuplai energi untuk jamur berkembang, sehingga mudah muncul manifestasi kelainan pada kulit, salah satunya adalah dermatofitosis. Penelitian World Health Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi dermatofit menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan infeksi tinea corporis yang merupakan tipe yang paling dominan dan diikuti dengan tinea kruris, tinea pedis dan onikomikosis. Di Indonesia, dermatofitosis menempati urutan kedua setelah pityriasis versikolor. Dermatofitosis didapatkan sebanyak 52% dengan kasus terbanyak tinea kruris dan tinea korporis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dermatofitosis dan Non Dermatofitosis dengan Diabetes Melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian Cross sectional di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien mengalami DM tipe 2 yang mengalami keluhan yang mengarah pada infeksi jamur pada kulit. Di RSUDZA Banda Aceh. Bahan yang digunakan untuk pemeriksaan KOH pada peneltian ini adalah Larutan KOH 10%, Mikroskop untuk pemeriksaan mikroskopik Scalpel untuk kerokan kulit dan Lampu Bunsen Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara diabetes melitus dengan angka kejadian dermatofitosis (p Value = 0,006). Sehingga dapat disimpulkan bahwa diabetes melitus berhubungan dengan munculnya penyakit jamur jenis dermatofitosis.

Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia pasien diabetes melitus yang mengalami penyakit jamur pada kulit terbanyak pda kelompok usia produktif (41-60 tahun) yaitu sebanyak 22 pasien (48,9%) diikuti kelompok usia >60 tahun sebanyak 20 pasien (44,4%) dan kelompok usia 18-40 sebanyak 3 pasien (6,7%).Diagnosis dermatofita pada pasien diabetes melitus ditemukan pada 30 pasien (66,7%).Sedangkan diagnosis non dermatofita ditemukan hanya pada 15 pasien (33,3%).Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara diabetes melitus dengan angka kejadian dermatofitosis (p Value = 0,006).Sehingga dapat disimpulkan bahwa diabetes melitus berhubungan dengan munculnya penyakit jamur jenis dermatofitosis.Penelitian lanjutan diperlukan untuk menambah variabel penyakit kulit lain yang berhubungan dengan penderita diabetes melitus dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat hubungan signifikan antara diabetes melitus dengan angka kejadian dermatofitosis. Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menyelidiki lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan ini, seperti peran sistem imun dan mekanisme patogenesis gangguan imunoregulasi pada pasien diabetes melitus. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis infeksi jamur lainnya yang mungkin terkait dengan diabetes melitus dan memetakan distribusi geografisnya di Indonesia. Dengan demikian, dapat dikembangkan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif untuk pasien diabetes melitus yang rentan terhadap infeksi jamur.

  1. Hubungan Dermatofitosis dan Non Dermatofitosis Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 | Journal of Medical Science.... rsudza.acehprov.go.id/publikasi/index.php/JMS/article/view/144Hubungan Dermatofitosis dan Non Dermatofitosis Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Journal of Medical Science rsudza acehprov go publikasi index php JMS article view 144
Read online
File size371.59 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test