POLTEKKES TJKPOLTEKKES TJK

Jurnal KesehatanJurnal Kesehatan

Preeclampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai oleh hipertensi dan proteinuria, memengaruhi 2–8 % kehamilan secara global dengan prevalensi sebesar 24 % di Indonesia. Etiologinya masih belum jelas karena sifatnya yang kompleks dan multifaktorial, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, obesitas, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, dan kehamilan ganda. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara indeks massa tubuh (BMI) dengan preeclampsia pada wanita hamil. Studi observasional analitis dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan 18 responden pada masing‑masing kelompok. Data sekunder diperoleh dari rekam medis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan Puskesmas Senen. Analisis statistik menggunakan uji Chi‑Square. Hasil menunjukkan bahwa 17 responden (47,2 %) dengan kelebihan berat badan atau obesitas mengalami preeclampsia, sementara 8 responden (22,2 %) dengan BMI normal tidak mengalami kondisi tersebut. Uji Chi‑Square mengindikasikan adanya asosiasi signifikan antara BMI dan preeclampsia (p = 0,007). BMI yang lebih tinggi secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko preeclampsia. Mempertahankan BMI yang sehat selama kehamilan dapat mengurangi risiko kondisi ini.

Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita hamil dengan kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko preeclampsia yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki BMI normal, sementara BMI normal berfungsi sebagai faktor perlindungan.Temuan tersebut menekankan pentingnya skrining BMI dini serta konseling nutrisi dan program manajemen berat badan sebagai bagian dari praktik klinis dan kebijakan kesehatan masyarakat.Penelitian selanjutnya sebaiknya melibatkan studi prospektif multi‑pusat dengan desain longitudinal serta uji coba intervensi yang menilai efektivitas optimalisasi berat badan pra‑kehamilan dan modifikasi gaya hidup dalam mengurangi kejadian preeclampsia.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki peran biomarker metabolik spesifik, seperti leptin, insulin, dan profil lipid, dalam memediasi hubungan antara BMI dan preeclampsia pada populasi perempuan Indonesia yang beragam, sehingga memperjelas mekanisme biologis yang mendasari kondisi tersebut. Selain itu, diperlukan studi kohort prospektif besar yang mencakup wilayah perkotaan dan pedesaan untuk mengevaluasi pengaruh faktor gaya hidup—misalnya pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan paparan stres—sebagai moderator atau mediator antara BMI dan risiko preeclampsia. Selanjutnya, uji coba terkontrol secara acak yang menilai efektivitas program manajemen berat badan pra‑kehamilan, termasuk intervensi nutrisi dan latihan terstruktur, harus dilakukan guna menentukan apakah intervensi tersebut dapat menurunkan insiden preeclampsia secara signifikan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti kuat untuk strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran serta memperkuat kebijakan kesehatan reproduksi di Indonesia. Dengan menggabungkan data biomolekuler, faktor lingkungan, dan hasil intervensi klinis, para peneliti dapat mengidentifikasi profil risiko yang lebih akurat dan mengembangkan pendekatan personalisasi dalam perawatan ibu hamil. Akhirnya, hasil tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pedoman praktik klinis nasional untuk meningkatkan kualitas perawatan antenatal dan mengurangi beban morbiditas maternal.

  1.  . 0 mdpi.com/1422-0067/25/16/9017A 0 mdpi 1422 0067 25 16 9017
  2.  . 0 mdpi.com/2077-0383/9/8/2474A 0 mdpi 2077 0383 9 8 2474
Read online
File size289.33 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test