POLNEPPOLNEP

EksosEksos

Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan (fraudulent financial reporting) adalah hal yang umum terjadi. Beberapa kasus kecurangan yang terjadi di Indonesia meliputi kasus Bank Century, kasus Bank Lippo, dan yang baru-baru ini terjadi adalah kasus laporan keuangan Garuda yang dianggap tidak menyajikan situasi sebenarnya. Fraud pentagon diduga menjadi faktor pendorong praktik kecurangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh elemen-elemen fraud pentagon, dalam hal ini target keuangan (elemen tekanan), pengawasan yang tidak efektif (elemen kesempatan), pergantian direksi (elemen kemampuan), dan koneksi politik (elemen arogansi) terhadap terjadinya pelaporan keuangan yang curang. Selain itu, penelitian ini juga menguji lebih lanjut apakah praktik pelaporan keuangan yang curang dapat memoderasi pengaruh elemen-elemen fraud pentagon terhadap nilai perusahaan. Populasi penelitian ini adalah 49 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya variabel pergantian dewan direksi yang memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan, sedangkan variabel lainnya tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap terjadinya kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel kualitas auditor eksternal memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pelaporan keuangan yang curang memperkuat pengaruh fraud pentagon terhadap nilai perusahaan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa target keuangan (pressure) memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan, artinya semakin tinggi target keuangan, semakin besar potensi kecurangan.Namun, variabel ketidakefektifan pengawasan (opportunity), pergantian auditor (rationalization), pergantian direksi (capability), dan hubungan politik (arrogance) tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan pada perusahaan sampel.Hal ini mengindikasikan bahwa dari elemen fraud pentagon yang diuji, hanya tekanan finansial yang menjadi pemicu utama kecurangan pelaporan keuangan.

Mengingat hasil penelitian ini menunjukkan inkonsistensi pada beberapa elemen fraud pentagon yang tidak signifikan memengaruhi kecurangan laporan keuangan, studi lanjutan dapat berfokus pada evaluasi mendalam terhadap validitas dan relevansi proksi yang digunakan, misalnya dengan mengeksplorasi indikator yang lebih sensitif dan akurat seperti data kualitatif atau analisis isi laporan tahunan untuk pergantian direksi atau kebijakan pengawasan yang lebih nuansif, bukan hanya variabel dummy sederhana. Selanjutnya, meskipun abstrak menyinggung peran moderasi praktik pelaporan keuangan yang curang dalam memperkuat pengaruh fraud pentagon terhadap nilai perusahaan, bagian kesimpulan tidak merinci temuan ini. Oleh karena itu, penelitian di masa depan dapat memperdalam analisis peran moderasi tersebut, mengidentifikasi elemen spesifik dari fraud pentagon yang interaksinya dengan kecurangan laporan keuangan memiliki dampak paling kuat terhadap nilai perusahaan, yang akan memberikan wawasan penting bagi investor dan regulator. Terakhir, untuk meningkatkan generalisasi temuan, peneliti dapat memperluas cakupan sampel tidak hanya pada perusahaan manufaktur, tetapi juga menganalisis sektor-sektor lain yang rentan seperti keuangan atau pertambangan, bahkan melakukan studi komparatif lintas negara. Pendekatan ini akan membantu memahami apakah faktor pemicu kecurangan bersifat universal ataukah sangat bergantung pada karakteristik industri, regulasi, dan konteks geografis, memberikan perspektif yang lebih kaya dan komprehensif tentang dinamika kecurangan laporan keuangan.

Read online
File size262.19 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test