UWIKAUWIKA

Anggapa Journal- Building design and architecture management studiesAnggapa Journal- Building design and architecture management studies

Perkembangan teknologi digital dan kompleksitas fungsi dalam arsitektur kontemporer menuntut pendekatan desain yang revolusioner. Jurnal ini membahas penerapan dua konsep arsitektural yang saling terkait, yaitu Teori Bigness yang diperkenalkan oleh Rem Koolhaas/OMA dan Arsitektur Programmatik (Programmatic Architecture), pada studi kasus Perpustakaan Pusat Seattle (Seattle Central Library). Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini mengkaji bagaimana bangunan tersebut mewujudkan prinsip-prinsip inti Teori Bigness, seperti otonomi elemen, disintegrasi skala, dan ketidakterikatan antar bagian untuk menampung program yang sangat kompleks dan dinamis. Selanjutnya, jurnal ini menganalisis bagaimana kurasi dan organisasi program-program yang beragam (seperti ruang baca, koleksi, area publik, parkir, dan fasilitas administratif) tidak hanya memengaruhi bentuk dan sirkulasi, tetapi juga menciptakan pengalaman spasial yang baru dan tak terduga bagi pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seattle Central Library merupakan manifestasi fisik dari sintesis antara teori dan pemrograman fungsional, di mana bigness memungkinkan terciptanya suatu mesin sosial yang efisien, fleksibel, dan ikonik.

Berdasarkan hasil analisis terhadap desain dan organisasi ruang Seattle Central Library, dapat disimpulkan bahwa bangunan ini merupakan representasi nyata dari integrasi antara Teori Bigness dan Programmatic Architecture dalam arsitektur kontemporer.Pertama, penerapan Teori Bigness terlihat melalui skala besar dan otonomi ruang yang membentuk sistem arsitektur kompleks namun terintegrasi.Bangunan ini tidak lagi dipahami sebagai satu kesatuan komposisi tunggal, melainkan sebagai tumpukan platform program yang saling berinteraksi.Setiap zona atau lantai bekerja secara independen, dengan fungsi spesifik namun tetap terhubung melalui sistem sirkulasi vertikal dan diagonal.Hal ini sejalan dengan gagasan Koolhaas bahwa arsitektur skala besar memiliki logika internalnya sendiri yang menolak kontrol formal tradisional.Kedua, konsep Programmatic Architecture diwujudkan melalui pengorganisasian fungsi yang dinamis dan fleksibel.Pengelompokan program stabil (seperti arsip, kantor, dan area teknis) dan program tidak stabil (seperti Mixing Chamber, Living Room, dan Book Spiral) menunjukkan bagaimana fungsi ruang disusun berdasarkan kebutuhan aktivitas pengguna, bukan sekadar urutan struktural.Pendekatan ini menjadikan bangunan adaptif terhadap perubahan fungsi di era digital dan menempatkan pengalaman pengguna sebagai pusat desain.Ketiga, integrasi kedua teori tersebut menciptakan tipologi baru bangunan publik perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan pengetahuan, tetapi juga ruang sosial, digital, dan urban.Skala bangunan yang besar (Bigness) memungkinkan fleksibilitas fungsi (Programmatic Architecture) untuk hidup berdampingan secara harmonis.Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur kontemporer tidak lagi menekankan bentuk estetis semata, tetapi juga struktur konseptual dan performatif dalam merespons kebutuhan masyarakat informasi modern.Secara keseluruhan, Seattle Central Library menjadi simbol perubahan paradigma arsitektur publik abad ke-21.dari bangunan institusional yang kaku menjadi ekosistem ruang yang adaptif, informatif, dan interaktif.Integrasi teori Bigness dan pendekatan Programmatic Architecture menjadikan proyek ini sebagai tonggak penting dalam evolusi desain arsitektur kontemporer, yang menempatkan manusia, informasi, dan ruang dalam kesatuan sistem yang saling memengaruhi.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penelitian lanjutan dapat berfokus pada aspek-aspek berikut: Pertama, melakukan studi komparatif antara Seattle Central Library dengan perpustakaan-perpustakaan kontemporer lainnya yang menerapkan konsep Bigness dan Programmatic Architecture, untuk memahami bagaimana kedua konsep tersebut diterapkan secara berbeda dan dampak yang dihasilkan. Kedua, menganalisis lebih dalam tentang bagaimana pengalaman pengguna terpengaruh oleh desain arsitektur yang menerapkan Bigness dan Programmatic Architecture, termasuk aspek navigasi, interaksi sosial, dan pengalaman spasial. Ketiga, mengeksplorasi potensi penerapan konsep Bigness dan Programmatic Architecture dalam konteks arsitektur institusi publik lainnya, seperti museum, pusat seni, atau gedung pemerintahan, untuk memahami bagaimana kedua konsep tersebut dapat diterapkan secara luas dan memberikan kontribusi terhadap wacana arsitektur terkini.

Read online
File size461.67 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test