UWIKAUWIKA

Anggapa Journal- Building design and architecture management studiesAnggapa Journal- Building design and architecture management studies

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan neuroperkembangan yang ditandai dengan keterbatasan komunikasi, perilaku repetitif, serta kesulitan dalam interaksi sosial. Peningkatan prevalensi ASD di Indonesia, termasuk di Kota Batam, menegaskan urgensi penyediaan fasilitas terapi yang terintegrasi dengan prinsip arsitektur terapeutik. Studi ini mengkaji implementasi arsitektur terapeutik pada perancangan pusat terapi anak autis di kawasan pesisir Marina, Kota Batam, dengan memanfaatkan potensi alami lingkungan pesisir. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara semi-terstruktur dengan para ahli. Hasil studi menunjukkan bahwa arsitektur terapeutik dapat diimplementasikan melalui penerapan warna netral, pemandangan restoratif, bentuk ruang sederhana, tekstur aman, pencahayaan adaptif, kontrol akustik, pengaturan suhu dan aroma, serta penyediaan taman terapeutik. Integrasi elemen alami pesisir, seperti pepohonan, pasir pantai, dan air, berperan dalam mendukung regulasi emosi, stimulasi sensorik, serta perkembangan kognitif dan sosial anak. Konsep massa bangunan yang terinspirasi dari jaringan saraf dan gelembung menghasilkan zonasi ruang yang saling terhubung, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan terapi. Dengan demikian, pusat terapi tidak hanya berfungsi sebagai sarana rehabilitasi, tetapi juga ruang inklusif yang menghadirkan pengalaman terapeutik menyeluruh. Studi ini diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan fasilitas terapi anak autis berbasis arsitektur terapeutik di kawasan pesisir maupun perkotaan.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pendekatan arsitektur terapeutik dapat diterapkan pada pusat terapi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) di pesisir Kota Batam melalui prinsip-prinsip utama yang mencakup warna, pemandangan, bentuk ruang, tekstur, pencahayaan, suara, suhu, aroma, dan ruang luar.Integrasi elemen alami pesisir seperti pepohonan, pasir pantai, dan air terbukti penting dalam mendukung proses terapi.Bentuk ruang yang adaptif serta pengaturan multisensori juga berperan dalam meningkatkan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak autis.Konsep massa bangunan yang terinspirasi dari jaringan saraf dan gelembung menghasilkan zonasi ruang yang saling terhubung, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.Dengan pendekatan ini, pusat terapi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan dan rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang inklusif yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman terapeutik menyeluruh.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengeksplorasi lebih lanjut dampak nyata desain arsitektur terapeutik terhadap perilaku dan perkembangan anak autis. Selain itu, studi dapat difokuskan pada evaluasi pasca-implementasi untuk mengukur efektivitas desain dalam mendukung proses terapi. Selain itu, penelitian dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan teknologi interaktif dan prinsip keberlanjutan lingkungan dalam desain pusat terapi anak autis. Dengan demikian, studi ini dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam pengembangan fasilitas terapi anak autis berbasis arsitektur terapeutik di Indonesia.

  1. Implikasi Karakter Ruang Bermain Terhadap Biofilia Anak Usia Sekolah di Pulau Belakang Padang | Aguspriyanti... doi.org/10.20961/arst.v23i1.97997Implikasi Karakter Ruang Bermain Terhadap Biofilia Anak Usia Sekolah di Pulau Belakang Padang Aguspriyanti doi 10 20961 arst v23i1 97997
  2. PENGARUH TERAPI ABA PADA ANAK TERDIAGNOSA AUTISM SPECTRUM DISORDER | Jurnal Cakrawala Ilmiah. pengaruh... bajangjournal.com/index.php/JCI/article/view/4900PENGARUH TERAPI ABA PADA ANAK TERDIAGNOSA AUTISM SPECTRUM DISORDER Jurnal Cakrawala Ilmiah pengaruh bajangjournal index php JCI article view 4900
Read online
File size816.84 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test