ISI DPSISI DPS

PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan SeniPENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni

Wayang wong merupakan warisan terpenting dari zaman Bali klasik yakni jenis tari yang telah memiliki norma-norma serta pembakuan sikap dan gerak, mempunyai nilai artistik yang cukup tinggi, dan penggarapannya ditata secara lebih rumit. Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar merupakan tempat pelaksanaan penelitian dan juga merupakan tempat berkembangnya kesenian klasik yaitu dramatari Wayang Wong, yang merupakan upaya pelestarian kesenian klasik dan sakral. Tujuan penelitian ini tiada lain untuk mengetahui karakteristik yang dimiliki dari kesenian dramatari Wayang Wong yang menjadi ciri khas tersendiri dan merupakan perbedaan dari Wayang Wong di daerah lainnya khususnya di Bali. Proses penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pokok pembahasan antara lain, yaitu karakteristik dramatari Wayang Wong. Metode dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Proses analisis data menggunakan analisis kualitatif, dimana hasil dari analisis data disajikan dalam bentuk penyajian informal yang merupakan penyajian analisis dengan cara naratif. Sumber data dalam proses penelitian ini diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder. Wayang Wong yang ada di Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar ini memiliki keunikan dan ciri khas dari penamaan ragam gerak, tata busana, tata iringan, struktur pementasan, tata bahasa yang digunakan dan fungsinya. Hal itu yang menjadi keunikan dari dramatari Wayang Wong yang ada di Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.

Wayang Wong merupakan tari klasik Bali yang penting, dengan sejarah perkembangan yang kaya di berbagai desa, termasuk Banjar Pujung Kaja.Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja memiliki karakteristik unik pada ragam gerak, tata busana, iringan, dan tata dialog yang bersumber dari Kekawin Ramayana, serta pola gerak dinamis dan lembut yang berbeda pada setiap tokoh.Keunikan ini menjadi pembeda Wayang Wong Pujung Kaja dari daerah lain, menegaskan nilai seni dan budaya yang khas.

Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi karakteristik unik Dramatari Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja, namun masih terdapat ruang untuk pengembangan studi lebih lanjut yang dapat memperkaya pemahaman kita. Pertama, penting untuk mendalami faktor-faktor sosio-historis yang melatarbelakangi pembentukan ciri khas Wayang Wong di Banjar Pujung Kaja. Mengingat minimnya data konkret, penelitian di masa depan bisa fokus pada analisis komparatif dengan Wayang Wong di daerah lain di Bali, seperti Tejakula atau Tunjuk, untuk mengungkap bagaimana interaksi sosial, sejarah lokal, dan interpretasi seniman dari waktu ke waktu membentuk perbedaan ragam gerak, tata busana, dan iringan yang ada. Ini akan membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana karakteristik tersebut berevolusi menjadi identitas uniknya. Kedua, aspek tata bahasa dan fungsinya sebagai media pendidikan menawarkan potensi penelitian yang menarik. Dengan penggunaan bahasa Kawi dan peran Punakawan sebagai penerjemah, bagaimana proses transmisi pengetahuan dan nilai-nilai Ramayana terjadi di kalangan generasi muda dan masyarakat umum? Sebuah studi mendalam dapat mengevaluasi efektivitas metode pengajaran dan pelestarian bahasa Kawi dalam konteks dramatari ini, serta mengkaji dampak linguistik terhadap pemahaman cerita dan nilai-nilai moral yang ingin disampaikan. Ketiga, melihat fungsi Wayang Wong sebagai tari wali, bebali, dan bali-balihan, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi persepsi dan ekspektasi audiens kontemporer terhadap dramatari Wayang Wong, terutama ketika topeng duplikat digunakan untuk pertunjukan di luar ritual sakral. Studi ini dapat mengidentifikasi strategi inovatif yang dapat diterapkan oleh komunitas atau sekaa untuk menjaga relevansi dan daya tarik Wayang Wong di tengah arus modernisasi, tanpa mengorbankan nilai sakral dan artistik aslinya. Misalnya, bagaimana teknologi digital atau media baru dapat digunakan untuk mendokumentasikan, mempromosikan, atau bahkan mengadaptasi Wayang Wong untuk menjangkau audiens yang lebih luas, sembari tetap mempertahankan esensi budayanya.

Read online
File size523.43 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test