STIKESMITRAKELUARGASTIKESMITRAKELUARGA

Jurnal Mitra KesehatanJurnal Mitra Kesehatan

Pendahuluan: Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, serta protein, yang disebabkan oleh kelainan sekresi atau kerja insulin. Kadar HbA1C yang tinggi menunjukkan kontrol diabetes yang buruk, berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang, termasuk nefropati diabetic, yaitu kebocoran albumin ke urin akibat kerusakan glomerulus. Penelitian ini bertujuan menilai apakah terdapat hubungan antara kadar HbA1C pasien prolanis diabetes melitus dan tingkat mikroalbuminuria di Puskesmas Kesugihan I. Metode: Desain deskriptif cross-sectional, melibatkan 60 pasien prolanis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan data HbA1C dan mikroalbuminuria dari Januari hingga Maret 2025. Hasil: Analisis korelasi Spearman menunjukkan nilai r = -0,163 dengan p = 0,214. Kesimpulan: Studi ini tidak menemukan hubungan signifikan antara kadar HbA1C dan mikroalbuminuria pada pasien prolanis diabetes melitus.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan tidak adanya korelasi kadar HbA1c pasien prolanis diabetes melitus tipe II terhadap kadar mikroalbuminuria di Puskesmas Kesugihan I.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan melakukan studi kohort longitudinal untuk memantau variasi HbA1c pada pasien prolanis selama setidaknya dua tahun dan mengevaluasi hubungannya dengan progresi mikroalbuminuria secara bertahap. Penelitian ini juga dapat memasukkan pemantauan glukosa harian menggunakan perangkat wearable untuk memperoleh data fluktuasi glukosa yang lebih detail. Selanjutnya, diperlukan penelitian kasus‑kontrol multi‑pusat yang menggabungkan biomarker ginjal seperti kreatinin serum, eGFR, dan rasio albumin‑kreatinin urin bersama nilai HbA1c untuk mengidentifikasi faktor prediktif gabungan terhadap kerusakan ginjal pada diabetes tipe 2. Selain itu, studi observasional dapat meneliti pengaruh komorbiditas hipertensi dan dislipidemia terhadap munculnya mikroalbuminuria dengan membandingkan kelompok pasien yang memiliki satu atau lebih komorbiditas versus yang tidak, sehingga dapat menentukan kontribusi relatif faktor non‑glikemik. Pendekatan intervensi dengan program edukasi kontrol glikemik intensif bagi pasien dengan variasi HbA1c tinggi dapat diuji untuk melihat efeknya pada penurunan mikroalbuminuria. Ketiga rancangan tersebut diharapkan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika faktor risiko ginjal pada populasi prolanis, serta menghasilkan rekomendasi klinis yang lebih tepat untuk pencegahan komplikasi nefropati diabetik.

  1. The Relationship between Microalbumin Levels and HbA1c in People at Risk for Type 2 Diabetes Mellitus:... doi.org/10.21070/medicra.v4i2.1612The Relationship between Microalbumin Levels and HbA1c in People at Risk for Type 2 Diabetes Mellitus doi 10 21070 medicra v4i2 1612
  2. CORRELATION OF HBA1C LEVELS OF PROLANIS PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS TO MICROALBUMINURIA LEVELS AT... doi.org/10.47522/jmk.v8i1.422CORRELATION OF HBA1C LEVELS OF PROLANIS PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS TO MICROALBUMINURIA LEVELS AT doi 10 47522 jmk v8i1 422
  3. The Effect of Doses of Red Shoot Leaf Extract (Syzygium myrtifolium Walp) on Decreased Cholesterol Total... doi.org/10.2991/978-94-6463-284-2_31The Effect of Doses of Red Shoot Leaf Extract Syzygium myrtifolium Walp on Decreased Cholesterol Total doi 10 2991 978 94 6463 284 2 31
  4. Glycated hemoglobin variability and the risk of cardiovascular events in patients with prediabetes and... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jdi.14073Glycated hemoglobin variability and the risk of cardiovascular events in patients with prediabetes and onlinelibrary wiley doi 10 1111 jdi 14073
Read online
File size437.02 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test