IAI TABAHIAI TABAH

Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran IslamAlamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, baik dalam diri sendiri maupun melalui interaksi langsung atau tatap muka sehingga pesan dapat disampaikan dan keputusan dapat dicapai. Dalam penelitian ini, komunikasi interpersonal yang dimaksud adalah komunikasi antara pengelola dalam membentuk karakter disiplin para santri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi komunikasi interpersonal pengelola dalam membentuk karakter disiplin santri di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana strategi komunikasi interpersonal manajemen dalam membentuk karakter disiplin santri serta apa saja faktor pendukung dan penghambat pengelola dalam proses pembentukan karakter disiplin santri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strategi komunikasi interpersonal Miller dan Stainberg, yaitu strategi dangling carrot (menggunakan pujian sebagai motivasi), hanging sword (sebagai hukuman bagi pelanggar), dan strategi katalis (untuk memberi nasihat). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelola menggunakan strategi dangling carrot dengan memberikan pujian atau penghargaan, hanging sword sebagai sanksi bagi pelanggar aturan disiplin, dan strategi katalis untuk memberikan nasihat kepada santri. Faktor pendukung adalah kerja sama antara masyarakat dan lingkungan pendidikan, sedangkan faktor penghambatnya adalah kadang pengelola lalai dalam tanggung jawab dan kurangnya kesadaran individu santri.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan peneliti pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa, teori Miller dan Stainberg merupakan teori strategi komunikasi interpersonal yang digunakan pengurus dalam membentuk karakter disiplin santri di pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah, antara lain.Pertama, Strategi Wortel Teruntai adalah penerapan strategi kendali komunikasi interpersonal yang dilakukan komunikator untuk meningkatkan probabilitas komunikan, apabila komunikator memberikan imbalan (reward) kepada komunikan, baik itu berupa barang ataupun pujian.Biasanya pengurus akan memberikan imbalan kepada santri yang memiliki rajin dan disiplin.Kedua, Strategi Pedang Tergantung adalah penerapan strategi kendali komunikasi interpersonal yang lakukan untuk mengurangi probabilitas komunikan, strategi ini berupa sebuah hukuman (punisment) yang komunikator berikan kepada komunikan.Biasanya pengurus memberikan hukuman kepada para santri yang melanggar peraturan di pondok pesantren, seperti merokok, keluar pondok tanpa izin, dan tidak mengikuti kegiatan.Ketiga, Strategi Katalisator adalah penerapan strategi komunikasi interpersonal yang digunakan komunikator untuk sekedar mengingatkan komunikan agar melakukan suatu tindakan yang diinginkan oleh komunikator, strategi ini berbeda dengan kedua strategi sebelumnya, strategi katalisator lebih menekankan sikap kesadaran kepada diri sendiri komunikan untuk melakukan tindakan yang diinginkan oleh komunikator.Biasanya pengurus memberikan teguran halus dan nasihat kepada santri yang melakukan pelanggaran ringan, seperti membuang sampah sembarangan, ghosob, dll.Dalam proses pengurus untuk membentuk karakter disiplin santri, terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat, antara lain.Faktor pendukung, pertama yaitu dalam proses membentuk karakter disiplin santri, para pengurus berusaha membangun komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait.Kerja sama antar civitas yang baik juga akan berdampak positif, seperti komunikasi antara pengasuh kepada pengurus kemudian berlanjut ke santri, sehingga kerja sama tersebut saling mendukung dan memberikan dampak yang positif terhadap kedisiplinan santri.Kedua yaitu lingkungan yang mendukung, pada dasarnya lingkungan seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap, watak, dan akhlaknya.Jika seseorang hidup dalam lingkungan yang baik, maka lingkungan tersebut akan memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan pembentukan karakternya.Salah satu lingkungan yang baik adalah lingkungan pondok pesantren, cukup kita ketahui bahwasannya lingkungan pondok merupakan lingkungan pendidikan yang sangat memperhatikan sifat akhlaqul karimah, salah satunya mempunyai karakter yang disiplin ketika berada di lingkungan pondok pesantren, yaitu dengan mematuhi segala peraturan pondok pesantren yang sudah disepakati bersama-sama.Faktor penghambat, pertama yaitu pengurus yang terkadang lalai, Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam proses pembentukan karakter disiplin santri adalah dari pribadi pengurus sendiri yang terkadang lalai dalam menjalankan tugas-tugas sebagai komunikatornya, karena peran seorang pengurus sebagai komunikator merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter disiplin santri.Dengan pengurus yang mempunyai pengetahuan yang luas, pengalaman yang cukup tinggi, dan memiliki sikap tanggung jawab yang baik, pengurus dirasa akan lebih mampu dalam membimbing dan memberikan pengajaran kepada santri terkait kedisiplinan.Kedua yaitu kurangnya kesadaran individu santri, Kurangnya minat santri untuk berubah menjadi lebih baik menjadi faktor utama yang menghambat proses pengurus dalam membentuk karakter disiplin santri.Sejumlah santri mungkin merasa sulit beradaptasi dengan situasi, kondisi, dan aturan yang berlaku di pondok pesantren, sehingga mereka cenderung menunjukkan ketidaksetujuan terhadap tata tertib dan aturan yang sudah ditetapkan, bahkan ada yang cenderung melanggar aturan, meskipun tidak semua santri memiliki perilaku yang melanggar, tidak dapat dipungkiri juga bahwa perilaku santri yang kurang responsif terhadap intruksi pengurus dapat menghambat proses jalannya komunikasi antara pengurus dengan santri yang lain.Hal ini menunjukkan bahwa bagaimanapun cara pengurus dalam mendidik santri untuk menjadi lebih baik, jika dari hati nurani santri sendiri tidak ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, maka pengurus juga akan semakin kesulitan sendiri dalam memberikan pengajaran kepada santri terkait kedisiplinan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi strategi komunikasi interpersonal yang efektif dalam membentuk karakter disiplin santri di lingkungan pondok pesantren yang berbeda. Penelitian ini dapat dilakukan dengan membandingkan strategi komunikasi yang digunakan oleh pengurus di berbagai pondok pesantren, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas strategi tersebut. Kedua, penelitian selanjutnya dapat fokus pada peran dan pengaruh lingkungan pondok pesantren dalam membentuk karakter disiplin santri. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana lingkungan pondok pesantren, termasuk aturan, tradisi, dan interaksi sosial, mempengaruhi perilaku dan karakter disiplin santri. Ketiga, penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi strategi komunikasi interpersonal yang digunakan oleh pengurus untuk mengatasi tantangan dan hambatan dalam membentuk karakter disiplin santri. Penelitian ini dapat menganalisis bagaimana pengurus beradaptasi dan menyesuaikan strategi komunikasi mereka dalam menghadapi berbagai situasi dan perilaku santri yang berbeda.

  1. Strategi Strategi Komunikasi Interpersonal Pengurus dalam Membentuk Karakter Disiplin Santri | Alamtara:... doi.org/10.58518/alamtara.v8i1.2999Strategi Strategi Komunikasi Interpersonal Pengurus dalam Membentuk Karakter Disiplin Santri Alamtara doi 10 58518 alamtara v8i1 2999
Read online
File size312.56 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test