YAZRIYAZRI

Jurnal Pendidikan Sosial IndonesiaJurnal Pendidikan Sosial Indonesia

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan tinggi menghadirkan peluang sekaligus tantangan etika digital di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penyalahgunaan AI serta implikasinya terhadap etika digital mahasiswa dalam ruang media daring di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian netnografi melalui observasi terhadap pemberitaan media nasional, dokumentasi digital, dan aktivitas media sosial terkait penggunaan AI di lingkungan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI berkembang dalam berbagai bentuk, seperti plagiarisme berbasis AI, ketergantungan akademik terhadap teknologi otomatis, manipulasi identitas digital melalui praktik deepfake, hingga pembuatan konten manipulatif dan pelanggaran privasi. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kemudahan akses teknologi, rendahnya literasi AI, lemahnya kesadaran etika digital, serta budaya popularitas media sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan AI secara tidak etis berpotensi menurunkan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam ruang digital. Oleh karena itu, penguatan literasi AI, etika digital, dan kebijakan institusional menjadi langkah penting untuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab di lingkungan pendidikan tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa universitas tidak hanya terbatas pada praktik plagiarisme dan ketergantungan akademik pada teknologi otomatis, tetapi juga mencakup manipulasi identitas melalui praktik deepfake, pelanggaran privasi, dan penyebaran konten manipulatif.Fenomena ini menunjukkan pergeseran dalam pola belajar mahasiswa dari proses pendidikan reflektif menuju budaya instan yang sangat bergantung pada otomasi teknologi.Penggunaan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa melibatkan proses berpikir kritis menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa semakin menganggap teknologi sebagai pengganti kemampuan intelektual, bukan sebagai alat bantu belajar.Temuan ini didukung oleh penelitian Castelló-Sirvent et al.(2025), yang menekankan keprihatinan serius mengenai integritas akademik, khususnya terkait plagiarisme, manipulasi tugas, dan kesulitan mahasiswa dalam membedakan penggunaan AI yang etis dan tidak etis.Selain masalah akademik, praktik deepfake dan manipulasi digital menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI telah menjadi bagian dari budaya media sosial mahasiswa.Dalam budaya digital kontemporer, mahasiswa bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga produser konten aktif yang membangun identitas sosial melalui ruang virtual.Media sosial mendorong terbentuknya budaya popularitas yang memprioritaskan viralitas, perhatian publik, dan eksistensi digital.Dalam situasi seperti itu, teknologi AI digunakan untuk menciptakan konten yang dianggap kreatif, menghibur, dan mampu menarik perhatian pengguna internet.Namun, praktik manipulasi visual melalui teknologi deepfake juga menunjukkan normalisasi pelanggaran privasi dan manipulasi identitas digital dalam budaya komunikasi mahasiswa.Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara hiburan digital dan pelanggaran etika telah semakin kabur karena dominasi budaya media sosial yang menempatkan popularitas digital sebagai orientasi utama interaksi online.

Berdasarkan temuan penelitian ini, penguatan literasi AI, etika digital, dan kewarganegaraan digital menjadi strategi penting untuk mengatasi penyalahgunaan AI yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa universitas. Institusi pendidikan tinggi perlu mengembangkan kebijakan penggunaan AI yang jelas, adaptif, dan relevan dengan dinamika perkembangan teknologi dalam pendidikan. Penelitian Mulaudzi dan Hamilton (2025) serta Hua dan Cunningham (2026) menekankan pentingnya integrasi pendidikan etika AI dan penguatan berpikir kritis dalam kurikulum pendidikan tinggi agar mahasiswa dapat memahami dimensi akademik, sosial, dan moral penggunaan teknologi AI. Selain itu, penguatan kewarganegaraan digital diperlukan untuk mendorong perilaku digital yang lebih bertanggung jawab dalam lingkungan virtual. Penggunaan AI dalam pendidikan tinggi tidak hanya seharusnya fokus pada peningkatan efisiensi akademik, tetapi juga pada pengembangan budaya digital yang etis, kritis, dan bertanggung jawab di kalangan mahasiswa. Penelitian selanjutnya dapat fokus pada dampak jangka panjang penggunaan AI terhadap perilaku akademik mahasiswa, kesejahteraan psikologis digital, proses pengambilan keputusan etis, dan transformasi budaya belajar di antara generasi digital masa depan.

  1. Artificial Intelligence Misuse and Digital Ethics Among University Students | Jurnal Pendidikan Sosial... journal.yazri.com/index.php/jupsi/article/view/407Artificial Intelligence Misuse and Digital Ethics Among University Students Jurnal Pendidikan Sosial journal yazri index php jupsi article view 407
Read online
File size317.12 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test