STIKESHBSTIKESHB

JURKESSIAJURKESSIA

Dalam melaksanakan tugas, awak pesawat militer harus dapat beradaptasi dengan lingkungan di mana semakin tinggi lokasi dari permukaan laut, tekanan barometrik menurun. Penurunan tekanan ini memicu terjadinya hipoksia, yaitu kondisi kekurangan oksigen akibat penurunan tekanan oksigen atmosferik yang mengakibatkan gangguan ventilasi‑perfusi. Selain menimbulkan hipoksia, perubahan tekanan barometrik juga menghasilkan perubahan gas dalam tubuh, termasuk barotrauma. Kondisi fatal yang diakibatkan oleh perubahan tekanan barometrik dapat dicegah melalui pelatihan ruang udara bertekanan rendah (hypobaric chamber) pada ketinggian 25.000 kaki. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gejala hipoksia dan barotrauma pada awak pesawat militer di Lakespra dr. Saryanto dengan desain deskriptif menggunakan data 97 rekam medis dari 147 rekam medis awak pesawat yang dipilih secara acak sederhana. Hasil menunjukkan bahwa 16 orang (16,5 %) mengalami gejala kognitif, 7 orang (7,2 %) mengalami gejala psikomotor, 21 orang (21,6 %) mengalami gejala visual, dan 61 orang (62,9 %) mengalami gejala non‑spesifik.

Penelitian menunjukkan bahwa gejala hipoksia pada awak pesawat terbagi menjadi gejala kognitif (16,5 %) dengan mayoritas mudah lupa, gejala psikomotor (7,2 %) dengan mayoritas gemetar, gejala visual (21,6 %) berupa pandangan kabur, serta gejala non‑spesifik (62,9 %) dengan mayoritas pusing/mual.Selain itu, sebagian besar sampel (95,9 %) tidak mengalami barotrauma, sementara 3,1 % terdiagnosis barotrauma (earblock) dan 1 % dicurigai barotrauma.Kesimpulan tersebut menegaskan pentingnya pelatihan hipobarik untuk mengidentifikasi dan mencegah gejala hipoksia serta barotrauma pada awak pesawat.

Saran penelitian lanjutan pertama adalah menguji hubungan antara indikator fisiologis seperti saturasi oksigen (SpO₂), denyut jantung, dan tekanan parsial oksigen dengan gejala hipoksia yang dilaporkan oleh awak pesawat selama pelatihan ruang udara bertekanan rendah, sehingga dapat mengidentifikasi tanda‑tanda objektif awal hipoksia. Kedua, perlu dilakukan evaluasi komparatif terhadap berbagai protokol pelatihan hipobarik—misalnya variasi ketinggian, durasi paparan, dan frekuensi sesi—untuk menentukan strategi paling efektif dalam mengurangi kejadian barotrauma dan gejala hipoksia pada awak pesawat. Ketiga, disarankan melakukan studi longitudinal yang mengikuti awak pesawat yang pernah mengalami hipoksia atau barotrauma selama pelatihan, untuk menilai dampak jangka panjang terhadap fungsi kognitif, kesehatan pendengaran, dan performa operasional, serta mengidentifikasi faktor‑faktor risiko yang berkontribusi pada komplikasi kronis. Selain itu, penelitian dapat memperluas sampel dengan melibatkan awak pesawat wanita serta rentang usia yang lebih luas, sehingga hasilnya dapat lebih representatif dan memungkinkan analisis perbedaan gender serta usia dalam respons hipoksia dan barotrauma.

  1. Comparison of hypobaric hypoxia symptoms between a recalled exposure and a current exposure | PLOS One.... journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0239194Comparison of hypobaric hypoxia symptoms between a recalled exposure and a current exposure PLOS One journals plos plosone article id 10 1371 journal pone 0239194
  2. asma. asma need enable javascript run app asma.kglmeridian.com/view//journals/asem/79/1/article-p54.xmlasma asma need enable javascript run app asma kglmeridian view journals asem 79 1 article p54 xml
  3. asma. asma need enable javascript run app asma.kglmeridian.com/view//journals/asem/83/10/article-p962.xmlasma asma need enable javascript run app asma kglmeridian view journals asem 83 10 article p962 xml
  4. Middle Ear Barotrauma in Military Aircrew: Analysis of Risk Factors | Journal of Armed Forces Medical... banglajol.info/index.php/JAFMC/article/view/56714Middle Ear Barotrauma in Military Aircrew Analysis of Risk Factors Journal of Armed Forces Medical banglajol index php JAFMC article view 56714
Read online
File size275.96 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test