UNSRATUNSRAT

CHEMPROGCHEMPROG

Aktivitas antioksidan dan toksisitas ekstrak serta fraksi daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) dari limbah penyulingan minyak nilam dievaluasi untuk mengetahui potensi senyawa bioaktif yang masih tersisa. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% dan dilanjutkan fraksinasi menggunakan n-heksana, etil asetat, butanol, serta air. Total fenolik, flavonoid, dan tanin dianalisis melalui spektrofotometri, sementara aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH dan toksisitas menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasilnya menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki kandungan fenolik (50,06 µg/mL), flavonoid (61,78 µg/mL), dan tanin (37,61 µg/mL) tertinggi dibandingkan dengan fraksi yang lain. Ekstrak dan semua fraksi yang diuji memperlihatkan aktivitas antioksidan dengan nilai paling besar ditunjukkan oleh frakse etil asetat. Uji toksisitas menunjukkan bahwa semua sampel bersifat toksik, dengan nilai LC₅₀ terendah pada fraksi etil asetat yaitu 233,82 µg/mL.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa biomassa sisa distilasi daun nilam (Pogostemon cablin Benth) masih menunjukkan kapasitas peredaman radikal bebas dengan kapasitas paling tinggi ditunjukkan oleh fraksi etil asetat.Di lain pihak, pengujian toksisitas menggunakan metode BSLT mengonfirmasi bahwa saluruh sampel uji memiliki sifat toksisitas yang aktif, di mana FEA bertindak sebagai fase paling poten karena memiliki konsentrasi letal terkecil LC50 233,82 µg/mL.Fenomena empiris ini menegaskan sebuah indikasi penting bahwa produk samping penyulingan daun nilam masih menyimpan kelimpahan metabolit sekunder bioaktif yang sangat prospektif untuk dieksplorasi dan diekambangkan pada penelitian farmaseutikal lanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada isolasi senyawa bioaktif spesifik dari fraksi etil asetat dan evaluasi aktivitas antikanker pada kultur sel kanker manusia untuk mengidentifikasi molekul dengan potensi terapeutik. Selain itu, diperlukan studi perbandingan metode ekstraksi ramah lingkungan, seperti ekstraksi supercritical CO₂, guna meningkatkan rendemen dan menurunkan tingkat toksisitas sampel dibandingkan metode maserasi tradisional. Terakhir, penting untuk melakukan uji toksisitas in vivo serta analisis farmakokinetik pada model hewan untuk menilai keamanan, distribusi, dan eliminasi fraksi paling aktif, sehingga memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pengembangan produk farmasi berbasis daun nilam yang dihasilkan dari limbah penyulingan.

Read online
File size198.51 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test