UNSRATUNSRAT

CHEMPROGCHEMPROG

Antioksidan berperan penting dalam mencegah penyakit degenerative dengan menghambat radikal bebas. Tongkol jagung memiliki kandungan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan namun pemanfaata nnya masih terbatas sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi modifikasi pati sagu baruk menggunakan ekstrak hidrotermal tongkol jagung dan aktivitas antioksidannya. Perubahan morfologi, struktur molekul, dan kristalinitas dianalisis menggunakan metode SEM, FTIR, dan XRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati native (PN) memiliki struktur semi-kristalin Tipe A dengan morfologi granula bulat halus. Setelah modifikasi (H-8), terjadi transformasi menjadi fase amorf sepenuhnya yang dikonfirmasi oleh nilai FWHM tertinggi (5,88) dan munculnya puncak vibrasi khas fenolik pada FTIR (1573 cm-1 dan 1435 cm-1). Analisis SEM menunjukkan kerusakan granula yang masif dan pembentukan matriks amorf akibat perlakuan panas 80°C. Uji DPPH menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan yang signifikan pada pati termodifikasi dibandingkan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa inkorporasi ekstrak hidrotermal tongkol jagung berpotensi meningkatkan nilai fungsional pati sagu baruk sebagai agen antioksidan.

Modifikasi pati sagu baruk pada suhu 80°C berhasil memperkenalkan komponen bioaktif ke dalam matriks pati, mengubah struktur semi‑kristalin menjadi amorf yang stabil serta secara signifikan meningkatkan kandungan total fenolik dibandingkan pati alami.Analisis FTIR mengonfirmasi terbentuknya ikatan hidrogen baru antara senyawa fenolik dan rantai amilosa/amilopektin.Integrasi senyawa fenolik secara nyata meningkatkan kapasitas aktivitas antioksidan pati sagu baruk, memperkuat nilai guna sebagai bahan baku pangan fungsional yang unggul dalam menangkal radikal bebas.

Saran penelitian lanjutan pertama adalah mengeksplorasi penggunaan ekstrak hidrotermal dari limbah pertanian lain, misalnya sekam padi, kulit pisang, atau kulit kelapa, untuk memodifikasi pati sagu baruk dan membandingkan efeknya terhadap perubahan struktur kristalinitas serta aktivitas antioksidan dengan ekstrak tongkol jagung yang telah diuji. Kedua, perlu diteliti apakah variasi suhu modifikasi di atas 80 °C, seperti 85 °C, 90 °C, atau bahkan 95 °C, dapat meningkatkan efisiensi konversi pati menjadi fase amorf sambil mempertahankan atau meningkatkan kandungan total fenolik, serta bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi sifat fisikokimia seperti kelembaban, viskositas, dan kelarutan. Ketiga, penting untuk melakukan uji in‑vivo pada model hewan atau sel kultur guna menilai kemampuan antioksidan pati sagu baruk yang telah dimodifikasi dalam mengurangi biomarker stres oksidatif, termasuk pengukuran kadar malondialdehid dan aktivitas enzim antioksidan endogen. Keempat, studi lanjutan dapat menilai potensi aplikasi pangan fungsional dengan mengembangkan produk olahan, seperti snack atau minuman, yang mengandung pati termodifikasi, serta mengevaluasi penerimaan sensorik konsumen. Kelima, analisis ekonomi dan skala industri diperlukan untuk menentukan kelayakan produksi massal ekstrak hidrotermal dan proses modifikasi pati, termasuk penilaian dampak lingkungan dari pemanfaatan limbah pertanian. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penelitian selanjutnya dapat memperluas manfaat bioaktif pati sagu baruk serta meningkatkan aplikasinya dalam industri makanan sehat.

Read online
File size582.79 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test