UNSRATUNSRAT

CHEMPROGCHEMPROG

Telah dilakukan penelitian mengenai sintesis nanobiochar dari eceng gondok pada suhu pirolisis 550°C. Sampel serbuk dan non aktivasi suhu 550°C (nanobiochar-550) maupun nanobiochar aktivasi basa NaOH (nanobiochar-550-AB) dari eceng gondok yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan X‑Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope‑Energy Dispersive X‑Ray (SEM‑EDX), Fourier‑Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil karakterisasi membuktikan terbentuknya nanobiochar dari eceng gondok. Kemudian, nanobiochar hasil sintesis dianalisis kemampuannya sebagai adsorben sianida. Berdasarkan hasil analisis menggunakan Spektofotometer uv‑vis menunjukkan bahwa nanobiochar dari eceng gondok mampu bertindak sebagai adsorben. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanobiochar-550 mempunyai aktivitas absorpsi lebih besar dibandingkan nanobiochar-550‑AB. Persentase adsorpsi ion sianida tertinggi untuk nanobiochar-550 yaitu waktu kontak 120 menit, dengan % adsorpsi sebesar 93,0 % dan massa nanobiochar 0,1 gram. Sedangkan presentasi adsorpsi tertinggi untuk adsorben nanobiochar-550‑AB juga berada pada menit ke‑120 dengan persentase adsorpsi 89,0 %.

Karakterisasi nanobiochar dari eceng gondok melalui pirolisis pada suhu 550 °C, baik dengan aktivasi basa maupun tanpa aktivasi, menunjukkan perubahan signifikan dalam komposisi dan struktur dibandingkan serbuk asli.Analisis FT‑IR, SEM‑EDX, dan XRD mengungkap hilangnya gugus hidroksil, perubahan morfologi, serta penurunan ukuran kristalit yang meningkatkan kapasitas adsorpsi sianida.Nanobiochar aktif eceng gondok terbukti sangat efektif, dengan persentase adsorpsi tertinggi 93,0 % untuk nanobiochar‑550 dan 89,0 % untuk nanobiochar‑550‑AB pada kontak 120 menit.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi pengaruh variasi suhu pirolisis serta jenis aktivator kimia lain seperti KOH atau H2SO4 terhadap struktur pori dan efisiensi adsorpsi nanobiochar pada ion sianida (misalnya, apakah suhu 450 °C atau 650 °C menghasilkan material dengan kapasitas adsorpsi lebih tinggi). Selain itu, penting untuk menguji kinerja nanobiochar dalam sistem aliran kontinu menggunakan air limbah tambang emas yang mengandung campuran kontaminan seperti logam berat, sehingga dapat menilai efektivitas material ini dalam kondisi operasional nyata dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi selektivitas adsorpsi. Terakhir, studi mengenai siklus regenerasi dan reutilisasi nanobiochar melalui proses desorpsi kimia atau termal akan memberikan wawasan tentang daya tahan material, biaya operasional, dan potensi aplikasi skala industri yang berkelanjutan. Penelitian juga dapat membandingkan performa nanobiochar aktif dengan biochar konvensional yang diproduksi tanpa aktivasi kimia untuk menentukan kontribusi aktivasi basa terhadap peningkatan kapasitas adsorpsi. Selain itu, analisis siklus hidup (life‑cycle assessment) nanobiochar dari eceng gondok dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak lingkungan secara keseluruhan dibandingkan dengan metode pengolahan limbah tradisional.

Read online
File size324.33 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test