BBCBBC

Proceedings International Conference of Bunga BangsaProceedings International Conference of Bunga Bangsa

Penelitian ini menyelidiki bagaimana narasi toleransi dan harmoni antaragama dibangun dan disebarkan melalui platform media online di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan penelitian pustaka dan perspektif perbandingan agama, penelitian ini meninjau berbagai sumber ilmiah terbaru yang membahas hubungan antaragama di dunia maya. Temuan menunjukkan bahwa media online memainkan peran ganda yang kompleks: di satu sisi menjadi media efektif untuk menyebarkan diskursus toleransi, sementara di sisi lain berpotensi menjadi arena reproduksi intoleransi melalui konten provokatif. Narasi harmoni yang dibangun di media online menarik dari nilai-nilai kebijaksanaan lokal, ajaran agama-agama besar, dan konstruksi ideologis negara yang tertanam dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Perspektif perbandingan agama memungkinkan identifikasi dasar bersama di antara Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konfusianisme dalam merespons perbedaan dan pluralisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi digital keagamaan merupakan instrumen strategis dalam memperkuat narasi toleransi di tengah digitalisasi yang cepat. Rekomendasi kebijakan dan akademik disajikan untuk mempromosikan optimasi media online sebagai kendaraan untuk harmoni antaragama yang berkelanjutan di Indonesia.

Penelitian ini berhasil mengungkapkan kompleksitas narasi toleransi dan harmoni antaragama dalam ekosistem media online Indonesia melalui tinjauan pustaka yang berlandaskan perspektif perbandingan agama.Setidaknya empat temuan utama dapat ditarik dari penelitian ini.Pertama, narasi toleransi di media online Indonesia dibangun melalui tiga tipologi utama.narasi yang berbasis nilai-nilai universal bersama, narasi yang berbasis kewarganegaraan berorientasi Pancasila, dan narasi yang berbasis pengalaman antaragama pribadi.Ketiga tipologi ini saling melengkapi dalam membentuk ekosistem diskursus toleransi yang dinamis di ruang siber.Kedua, media online memainkan peran ganda dan paradoks.sebagai platform untuk penyebaran toleransi dan sekaligus reproduksi intoleransi.Sifat algoritmik media sosial, yang menciptakan ruang gema dan gelembung filter, merupakan tantangan struktural yang tidak dapat diatasi hanya dengan meningkatkan konten toleransi tanpa transformasi struktural platform digital itu sendiri.Ketiga, perspektif perbandingan agama mengonfirmasi bahwa semua tradisi agama besar memiliki sumber teologis yang kaya untuk mendukung toleransi.namun, efektivitas pemobilisasian sumber-sumber ini di media online sangat tergantung pada kemampuan aktor agama untuk menerjemahkan bahasa teologis menjadi narasi digital yang komunikatif dan resonan.Keempat, literasi digital keagamaan telah terbukti menjadi variabel kunci dalam menentukan apakah media online akan memperkuat atau melemahkan harmoni antaragama.Pengembangan literasi ini memerlukan kolaborasi sistematis di antara institusi pendidikan, organisasi agama, platform digital, dan pemerintah.Penelitian masa depan direkomendasikan untuk secara empiris mengeksplorasi efektivitas berbagai intervensi literasi digital keagamaan dalam membentuk perilaku pengguna online, serta melakukan analisis komparatif pola narasi toleransi di berbagai wilayah Indonesia dengan konteks sosio-agama yang beragam.Dengan demikian, media online dapat dioptimalkan sebagai media untuk memupuk harmoni yang autentik, bukan hanya sebagai arena untuk narasi bersaing yang memperburuk perselisihan sosial.

Untuk mendorong harmoni antaragama melalui media online, pemerintah perlu mengembangkan regulasi yang mendorong platform media online untuk memprioritaskan konten yang mempromosikan toleransi dalam algoritmanya, sambil memberlakukan sanksi ketat terhadap konten yang mempromosikan kebencian keagamaan. Regulasi tersebut harus seimbang dengan pendekatan yang tidak menekan kebebasan berekspresi, tetapi justru mendorong keterlibatan digital yang bertanggung jawab. Institusi pendidikan keagamaan perlu mengintegrasikan literasi digital keagamaan ke dalam kurikulumnya. Kemampuan untuk menavigasi lanskap digital yang kompleks, membedakan antara konten keagamaan otentik dan manipulatif, memahami konteks kutipan teks suci yang dibagikan di media sosial, dan mengembangkan sikap kritis terhadap narasi keagamaan yang beredar telah menjadi kompetensi penting bagi pemuda beragama di era digital. Organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus terus memimpin dalam mengembangkan dan menyebarkan konten digital yang mempromosikan Islam moderat dan toleran sebagai arus utama. Penelitian interdisipliner yang melibatkan studi komunikasi, studi agama, dan ilmu komputer sangat diperlukan untuk memahami mekanisme di balik penyebaran narasi toleransi di media online. Studi komputasional tentang pola penyebaran konten keagamaan, analisis sentimen terhadap diskursus keagamaan di media sosial, dan pemetaan jaringan aktor keagamaan digital akan memberikan wawasan yang lebih presisi tentang dinamika diskursus toleransi di dunia maya, sehingga memungkinkan intervensi yang lebih terarah dan efektif. Dengan demikian, media online dapat dioptimalkan sebagai media untuk memupuk harmoni yang autentik, bukan hanya sebagai arena untuk narasi bersaing yang memperburuk perselisihan sosial.

Read online
File size183.06 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test