POLTEKKESDEPKES SBYPOLTEKKESDEPKES SBY

Gema Lingkungan KesehatanGema Lingkungan Kesehatan

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, khususnya di daerah perkotaan seperti Medan. Meskipun faktor sosial‑ekonomi dan nutrisi sudah dikenal, pengaruh usia pernikahan ibu terhadap pertumbuhan anak masih kurang diteliti. Penelitian ini meneliti hubungan antara usia pernikahan ibu dan stunting pada anak di Medan. Metode: studi observasional analitik dengan desain kasus‑kontrol dilakukan dari Januari hingga Maret 2025 di beberapa puskesmas Medan. Total 124 pasangan ibu‑anak (62 kasus stunting dan 62 kontrol) dipilih melalui sampling cluster acak. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pemeriksaan rekam medis. Stunting didefinisikan sebagai nilai Z‑score tinggi‑bawah < -2 SD berdasarkan standar WHO. Analisis regresi logistik bertingkat memeriksa hubungan antara usia pernikahan (<25 vs ≥25 tahun) dan stunting, mengontrol pendidikan ibu, kesehatan ibu selama kehamilan, status sosial‑ekonomi, dan berat lahir. Hasil menunjukkan bahwa anak ibu yang menikah sebelum usia 25 tahun memiliki odds yang lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan ibu yang menikah lebih tua (OR terukur = 2,85; 95% CI: 1,71‑4,76; p < 0,001). Pendidikan rendah (OR = 2,12; p = 0,021) dan berat lahir rendah (OR = 2,43; p = 0,030) juga menjadi faktor risiko independen. Kesimpulannya, usia pernikahan ibu sebelum 25 tahun merupakan determinan kuat bagi stunting; penundaan pernikahan, peningkatan pendidikan ibu, dan penguatan program kesehatan ibu dapat secara signifikan mengurangi prevalensi stunting.

Stunting pada anak Medan secara signifikan dipengaruhi oleh usia pernikahan ibu sebelum usia 25 tahun, yang menunjukkan risiko hampir tiga kali lipat dibandingkan ibu yang menikah lebih tua.Selain itu, pendidikan rendah dan berat lahir rendah juga berkontribusi secara independen terhadap peningkatan risiko stunting.Temuan ini menegaskan perlunya kebijakan yang menekan usia pernikahan dini dan memperkuat pendidikan serta layanan kesehatan ibu untuk mencegah stunting.

Pertama, lakukan studi longitudinal di berbagai kota provinsi untuk mengevaluasi dampak intervensi pendidikan remaja terhadap penundaan pernikahan dan subsequent child growth outcomes. Kedua, teliti peran sistem dukungan kesehatan keluarga dalam memitigasi efek negatif usia pernikahan dini, dengan mengkaji pengaruh program peningkatan akses kesehatan prenatal pada kualitas rumah tangga. Ketiga, aplikasikan analisis multilevel dengan data tingkat rumah tangga dan komunitas untuk memahami bagaimana faktor sosial budaya, seperti norma pernikahan dan status ekonomi, memodifikasi hubungan antara usia pernikahan ibu dan stunting. Secara keseluruhan, kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif akan memberikan gambaran komprehensif mengenai interaksi faktor individual, keluarga, dan masyarakat dalam upaya pengurangan stunting di Indonesia.

  1. Childhood stunting: a global perspective - Onis - 2016 - Maternal & Child Nutrition - Wiley Online... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/mcn.12231Childhood stunting a global perspective Onis 2016 Maternal Child Nutrition Wiley Online onlinelibrary wiley doi 10 1111 mcn 12231
  2. Maternal Age at Marriage and Risk of Childhood Stunting: Evidence from a Case-Control Study in North... doi.org/10.36568/gelinkes.v23i4.403Maternal Age at Marriage and Risk of Childhood Stunting Evidence from a Case Control Study in North doi 10 36568 gelinkes v23i4 403
  3. OSF. osf doi.org/10.31227/osf.io/6zqdcOSF osf doi 10 31227 osf io 6zqdc
Read online
File size371.26 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test