FDIKJOURNAL UINMAFDIKJOURNAL UINMA

TASAMUH : Jurnal Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IslamTASAMUH : Jurnal Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Islam

Live shopping (livestream commerce) telah berkembang dengan cepat dari fitur yang awalnya berfokus pada hiburan menjadi saluran penjualan penting yang menggabungkan interaksi waktu nyata, kepercayaan pembuat konten, dan mekanisme promosi yang memicu pembelian impulsif. Perubahan ini menciptakan ketegangan yang khas bagi dakwah Islam: logika platform yang menuntut urgensi, kelangkaan, dan perhatian algoritmik dapat bertabrakan dengan komitmen normatif kejujuran (sidq), amanah, dan keadilan dalam muamalah. Artikel ini bertujuan mengembangkan model integratif Dawah-First Commerce bagi pelaku dakwah yang beroperasi dalam ekosistem live shopping, dengan menekankan negosiasi nilai, etika muamalah, dan komunikasi persuasif yang tetap terikat secara etis. Metodologinya menggunakan tinjauan literatur integratif atas penelitian tentang livestream commerce, etika bisnis Islam konsumen, kepercayaan, dan parasocial, yang dilengkapi dengan sintesis konseptual menggunakan mediasi agama sebagai lensa interpretatif. Sintesis tersebut menghasilkan tiga temuan: (1) kemampuan persuasif live shopping didorong oleh kehadiran sosial dan ikatan parasosial yang membentuk kepercayaan dan niat pembelian; (2) risiko etika terkonsentrasi pada asimetri informasi, penjualan berbasis rasa bersalah/ketakutan, dan religiositas performatif; dan (3) strategi berlapis—nilai inti, pengamanan operasional muamalah, dan polite persuasion—dapat mengurangi drift etis sambil mempertahankan keterlibatan. Artikel ini menyumbang panduan praktis run‑of‑show, SOP moderasi, dan indikator terukur untuk hasil dakwah serta hasil komersial. Implikasi dibahas untuk praktisi dakwah, platform, dan regulator yang menginginkan pasar digital yang lebih sehat.

Live shopping menawarkan interaksi pribadi dan konteks transaksi konkret namun juga mendorong urgensi dan pembelian impulsif, menghasilkan risiko etis seperti asimetri informasi dan penjualan manipulatif.Artikel ini mengusulkan model Dawah‑First Commerce—nilai inti, pengaman transaksional, dan persuasi sopan—yang diterjemahkan ke dalam run‑of‑show, SOP moderasi, dan indikator KPI terpisah.Dengan menanamkan transaksi etis—transparansi, klaim jujur, promosi adil, dan akuntabilitas pasca‑transaksi—live shopping dapat berubah menjadi platform pendidikan muamalah dan penguatan moral digital, bukan sekadar konsumsi impulsif.

Sebagai lanjutan penelitian, dapat diteliti apakah menambahkan jeda singkat 30 detik setelah setiap demonstrasi produk dapat mengurangi pembelian impulsif sambil mempertahankan tingkat keterlibatan. Selanjutnya, peneliti dapat mengeksplorasi penerapan analisis sentimen berbasis kecerdasan buatan secara real‑time di ruang obrolan live shopping untuk membantu moderator mendeteksi pelanggaran etika, seperti klaim menyesatkan, lebih cepat dan akurat. Selain itu, studi perbandingan antara format co‑hosting antara ceramah dakwah dengan segmen komersial, dibandingkan dengan satu‑segment, dapat mengungkap pengaruhnya terhadap tingkat kepercayaan audiens, retensi pengetahuan, dan niat pembelian di komunitas Muslim yang berbeda. Penelitian selanjutnya juga boleh menilai dampak pengintegrasian indikator KPI dakwah dalam strategi pemasaran platform terhadap loyalitas konsumen jangka panjang. Akhirnya, analisis data longitudinal dapat mengevaluasi seberapa efektif strategi “Dawah‑First Commerce dalam memperkuat etika muamalah dan menurunkan insiden penipuan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat menambah pemahaman praktis bagi platform dan regulator dalam merancang kebijakan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan nilai keagamaan. Selain itu, penelitian ini dapat mendasari pengembangan modul pelatihan bagi host dakwah untuk meningkatkan kepatuhan etika.

Read online
File size171.17 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test