THEHIPKNEEJOURNALTHEHIPKNEEJOURNAL

The Hip and Knee JournalThe Hip and Knee Journal

Patah tulang paha intertrochanterik adalah fraktur ekstrakapsular yang terjadi sepanjang garis yang terletak antara trochanter besar dan kecil. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kasus fraktur femur intertrochanterik di Rumah Sakit Umum Bali Mandara Denpasar dari Januari hingga Agustus 2022. Metode: Studi deskriptif retrospektif ini mengevaluasi karakteristik pasien dengan fraktur femur intertrochanterik di Rumah Sakit Umum Bali Mandara Denpasar dari Januari hingga Agustus 2022. Karakteristik pasien yang termasuk dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, klasifikasi fraktur sesuai dengan klasifikasi Boyd dan Griffin, mekanisme trauma, manajemen, dan energi trauma berdasarkan indeks Singh. Hasil berdasarkan data yang dikumpulkan dari catatan medis dari Januari hingga Agustus 2022, terdapat 36 pasien dengan fraktur femur intertrochanterik (8,78%). Pasien dengan fraktur femur intertrochanterik kebanyakan ditemukan pada pasien perempuan (25 pasien [69,4%]). Berdasarkan kelompok usia, kebanyakan pasien dengan fraktur femur intertrochanterik adalah lansia. Berdasarkan mekanisme trauma, 33 pasien mengalami fraktur akibat trauma energi rendah. Menurut klasifikasi Boyd dan Griffin, tipe 2 fraktur femur intertrochanterik lebih umum (14 pasien [38,9%]). Semua pasien menjalani operasi PFNA (100%) dan kebanyakan memiliki indeks Singh grade B (16 pasien [44,4%]). Kesimpulan: Insiden fraktur femur intertrochanterik adalah 8,78%. Fraktur femur intertrochanterik lebih umum terjadi pada pasien perempuan, berusia lebih dari 60 tahun, terjadi akibat trauma energi rendah, memiliki klasifikasi tipe 2 Boyd dan Griffin, memiliki indeks Singh grade B, dan diobati menggunakan PFNA.

Fraktur femur intertrochanterik lebih umum terjadi pada pasien perempuan dengan sebanyak 25 pasien (69,4%).Berdasarkan kelompok usia, fraktur femur intertrochanterik lebih umum terjadi pada lansia (>60 tahun).Berdasarkan mekanisme trauma, terdapat 33 pasien dengan trauma energi rendah, sementara tiga pasien dengan trauma energi tinggi.Menurut klasifikasi Boyd dan Griffin, tipe 2 fraktur lebih umum (14 pasien [38,9%]).Semua pasien menjalani operasi PFNA (100%) dan kebanyakan memiliki indeks Singh grade B (16 pasien [44,4%]).

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: 1. Menganalisis faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap fraktur femur intertrochanterik pada populasi lansia, seperti kondisi medis tertentu, aktivitas fisik, dan faktor lingkungan. 2. Mengevaluasi efektivitas dan hasil jangka panjang dari berbagai metode operasi yang digunakan untuk menangani fraktur femur intertrochanterik, seperti PFNA dan InterTAN, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia pasien, tingkat keparahan fraktur, dan komplikasi pasca operasi. 3. Mengembangkan strategi pencegahan dan intervensi yang efektif untuk mengurangi insiden fraktur femur intertrochanterik pada populasi lansia, termasuk program edukasi, latihan fisik yang disesuaikan, dan intervensi nutrisi untuk meningkatkan kepadatan tulang.

  1. Characteristics of Intertrochanteric Femur Fracture at Bali Mandara General Hospital | The Hip and Knee... doi.org/10.46355/hipknee.v5i1.146Characteristics of Intertrochanteric Femur Fracture at Bali Mandara General Hospital The Hip and Knee doi 10 46355 hipknee v5i1 146
Read online
File size166.57 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test