UTUUTU

Jurnal Mekanova : Mekanikal, Inovasi dan TeknologiJurnal Mekanova : Mekanikal, Inovasi dan Teknologi

Cooling tower banyak diaplikasikan di industri seperti pada pembangkit tenaga listrik dan kilang minyak, dimana pada peralatannya menghasilkan kelebihan panas yang perlu dibuang. Pengaruh konfigurasi penampang sekat terhadap kinerja prototipe novel cooling tower dikaji secara eksperimental. Konfigurasi Penampang sekat yang digunakan yaitu penampang sekat tanpa lubang, penampang sekat dengan 15 lubang, penampang sekat dengan 25 lubang, dan penampang sekat dengan 35 lubang. Temperatur inlet air divariasikan yaitu 55⁰C, 75⁰C, dan 90 ⁰C. air dialirkan dari bak penampung utama menuju bak penampung atas menggunakan pompa, air dari bak penampung atas jatuh kebawah mengenai sekat-sekat pada cooling tower. Temperatur air inlet, temperatur air outlet, dan temperatur air pada tiap sekat diukur menggunakan termokopel. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang menghasilkan kinerja yang paling optimal. Laju perpindahan panas yang dihasilkan cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang pada temperatur inlet 55⁰C yaitu 624,64 Watt. Pada temperatur inlet air 75⁰C laju perpindahan panas rata-rata yang dihasilkan cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang meningkat 42,6% dari temperatur inlet air 55⁰C. Rata-rata laju perpindahan panas yang dihasilkan cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang pada temperatur inlet air 90⁰C meningkat 20% dari temperatur inlet air 75⁰C. Hal ini dikarenakan pada cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang menyebabkan butiran air yang melewati sekat terpecah menjadi semakin banyak sehingga laju perpindahan semakin tinggi.

Berdasarkan hasil eksperimen, cooling tower dengan penampang sekat 35 lubang menunjukkan kinerja paling optimal, menghasilkan laju perpindahan panas sebesar 624,64 W pada temperatur inlet 55 °C dan meningkat hingga 62,6 % pada temperatur inlet 90 °C.Koefisien perpindahan panas konveksi juga tertinggi pada konfigurasi tersebut, mencapai 43,83 W/m²K pada 55 °C dan meningkat 20,8 % pada 90 °C.Peningkatan kinerja ini disebabkan oleh pecahnya butiran air menjadi lebih banyak ketika melewati sekat berlubang, sehingga luas permukaan kontak air‑udara menjadi lebih besar.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana variasi ukuran dan pola lubang pada penampang sekat mempengaruhi kinerja cooling tower, misalnya dengan membandingkan lubang berdiameter kecil, sedang, atau besar serta pola distribusi yang berbeda. Selanjutnya, penting untuk mengevaluasi pengaruh kecepatan aliran udara dan kondisi lingkungan, seperti angin lintas, terhadap laju perpindahan panas pada konfigurasi 35 lubang, sehingga dapat menentukan sejauh mana faktor eksternal memodulasi efisiensi sistem. Selain itu, penggunaan simulasi aliran fluida komputasi (CFD) untuk merancang dan mengoptimalkan geometri sekat secara numerik, kemudian divalidasi dengan percobaan laboratorium, dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme pemecahan butiran air dan peningkatan luas permukaan kontak. Akhirnya, penelitian ini juga dapat mengeksplorasi integrasi sistem pendingin ini dengan sumber energi terbarukan untuk meningkatkan keberlanjutan operasional.

Read online
File size466.18 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test