UNIVET BANTARAUNIVET BANTARA

Journal of Food and Agricultural ProductJournal of Food and Agricultural Product

Kerupuk merupakan makanan ringan tradisional Indonesia yang populer dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Fortifikasi dengan bahan alami kaya nutrisi seperti daun kelor (Moringa oleifera) merupakan alternatif untuk meningkatkan nilai gizi kerupuk. Meskipun demikian, pemanfaatan daun kelor dalam sistem pangan, khususnya di Kalimantan Barat, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar protein, kadar air, dan penerimaan sensoris kerupuk dengan berbagai penambahan puree daun kelor. Kerupuk dibuat dengan penambahan puree daun kelor pada konsentrasi 0% (kontrol), 3%, 5%, dan 7% (w/w). Kadar protein dianalisis menggunakan metode Kjeldahl dan kadar air dianalisis menggunakan metode termogravimetri. Penerimaan sensoris, meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur, dievaluasi menggunakan uji skoring, sedangkan penerimaan secara keseluruhan dievaluasi menggunakan tes hedonik dengan 20 panelis semi terlatih. Analisis data untuk kadar protein dan kadar air menggunakan regresi linier, sedangkan penerimaan sensorik dievaluasi menggunakan ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan puree daun kelor cenderung meningkatkan kadar protein dan kadar air pada kerupuk mentah, dengan nilai R² masing-masing sebesar 0,9715 dan 0,9018 berdasarkan analisis regresi linier. Uji skoring menunjukkan bahwa penambahan puree daun kelor berpengaruh signifikan terhadap semua parameter yang diamati. Berdasarkan uji hedonik, kerupuk yang mengandung 5% puree daun kelor merupakan kerupuk yang paling disukai oleh panelis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan 5% puree daun kelor merupakan formula yang disarankan untuk memproduksi kerupuk dengan nilai gizi yang cukup dan penerimaan sensoris yang baik oleh panelis.

Evaluasi keberhasilan penambahan puree daun kelor pada kerupuk berhasil meningkatkan kadar protein dan kadar air serta penerimaan sensoris.Regresi linier menunjukkan hubungan positif yang kuat antara persentase puree dan nilai nutrisi.Panelis lebih menyukai kerupuk dengan 5% puree daun kelor, sehingga rekomendasi formulasi akhir adalah 5% puree.

Untuk memperluas pengetahuan tentang manfaat pangan tradisional, penelitian berikutnya dapat menanyakan seberapa efektif penggandaan dosis puree daun kelor melampaui 7% terhadap kandungan nutrisi dan perilaku konsumen, sekaligus memantau potensi rasa pahit atau efek jangka panjang pada kesehatan. Selain itu, studi komparatif dapat dilakukan antara crackers yang menggunakan puree daun kelor dengan varian pengganti protein lain seperti protein kacang hijau atau kedelai untuk mengevaluasi perbandingan nilai gizi, tekstur, dan penerimaan sensoris, sehingga dapat ditetapkan standar industri yang optimal. Terakhir, akan berguna untuk mengambil pendekatan multidisipliner dengan memperkirakan dampak ekonomi dan sosial penerapan teknologi fermentasi atau pemrosesan tambahan pada puree daun kelor, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk dan motivasi petani lokal di Kalimantan Barat untuk berpartisipasi dalam rantai nilai produk olahan.

  1. Trace Element Content and Food Safety of Traditional Crackers ( Kerupuk ) Collected from Java Island,... doi.org/10.22146/ijc.70294Trace Element Content and Food Safety of Traditional Crackers Kerupuk Collected from Java Island doi 10 22146 ijc 70294
  2. Kadar Klorofil Daun Bibit Kelor (Moringa oleifera L.) pada Berbagai Dosis Kompos | Fadillah Rasyidi |... jurnal.umsu.ac.id/index.php/agrium/article/view/17486Kadar Klorofil Daun Bibit Kelor Moringa oleifera L pada Berbagai Dosis Kompos Fadillah Rasyidi jurnal umsu ac index php agrium article view 17486
Read online
File size248.41 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test