UNDIPUNDIP

JURNAL ILMU SOSIALJURNAL ILMU SOSIAL

Dalam rangka mengatasi masalah perkotaan penting dan ancaman lingkungan serius, pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta (Pulau Jawa) ke Penajam Paser, Kalimantan Timur, mulai 2024. Keputusan pembuat kebijakan sedang mengeksplorasi jalur jangka panjang untuk memberi tenaga pada Kota Besar Nusantara (Nusantara) dan Pulau Kalimantan secara luas guna mendukung komitmen transisi energi bersih. Penelitian ini menganalisis jalur transisi energi dengan horizon perencanaan hingga 2040 untuk memperluas kapasitas pembangkit listrik di seluruh Kalimantan dan Nusantara guna mendukung relokasi tersebut. Penelitian ini meneliti tingkat penetrasi energi terbarukan yang dapat dicapai dalam campuran pembangkit dan jalur menuju sistem energi kota nol emisi. Metode penelitian menggunakan pemodelan berbasis data dengan perangkat lunak perencanaan sistem energi terbuka Engage™. Studi ini mengeksplorasi opsi ekspansi kapasitas masa depan dengan mengoptimalkan kapasitas pembangkit, investasi transmisi, dan integrasi sistem penyimpanan energi. Hasilnya menunjukkan bahwa mencapai porsi 100 % energi terbarukan dalam campuran Kalimantan dapat dicapai pada 2040, dengan 94,2 % listrik berasal dari waduk hidropower besar. Namun, tingkat LCOE terendah tidak dicapai di bawah skenario 100 % energi terbarukan, melainkan di bawah skenario 75 % energi terbarukan karena biaya beberapa opsi terbarukan dapat melebihi biaya pembangkit fosil termurah. Skema 100 % energi terbarukan pada 2040 dapat meningkatkan LCOE sebesar 41 % dibandingkan dengan skenario Business‑as‑Usual (BAU) dan memerlukan biaya investasi tertinggi. Kecenderungan kuat pada hidropower besar dapat menimbulkan tantangan terkait akuisisi lahan, konflik sosial, dan degradasi lingkungan. Penelitian ini juga mengeksplorasi peluang pengembangan energi bersih dan investasi pada rencana ibu kota baru, termasuk infrastruktur pendukung seperti sumber energi terbarukan, jaringan pintar, dan sistem penyimpanan energi skala besar.

Pencapaian listrik 100 % energi terbarukan di Pulau Kalimantan pada 2040 dapat diwujudkan dengan memanfaatkan 94,2 % energi hidropower reservoir.Namun, skenario 75 % energi terbarukan menimbulkan LCOE terendah di antara semua skenario.Skenario 100 % energi terbarukan meningkatkan LCOE sebesar 41 % dibandingkan dengan skenario BAU pada 2040.Oleh karena itu, peningkatan penetrasi energi terbarukan tidak otomatis menurunkan biaya suplai listrik, dan keputusan kebijakan 100 % energi terbarukan memerlukan evaluasi lebih lanjut karena dapat mengarah pada investasi sumber energi terbarukan berbiaya tinggi.

Pertama, penelitian lanjutan dapat meneliti peta simulasi kebutuhan kapasitas transmisi dengan memproyeksikan skenario Air Terjun Hidrolitik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya hybrid di daerah Tenggara Kalimantan untuk memaksimalkan penyimpanan energi pasif guna menurunkan flux LCOE pada skenario 100 % energi terbarukan. Kedua, studi atas dampak sosial ekonomi mikro di wilayah perumahan dan industri di Nusantara bila dipenuhi kebutuhan listrik 100 % energi terbarukan dapat diambil untuk mengidentifikasi kebijakan fiskal dan mekanisme insentif yang optimal bagi pelaku industri. Ketiga, penelitian terintegrasi mengenai model kebijakan pengelolaan lahan dan konflik sosial di sekitar potensi proyek hidropower besar dapat menyediakan kerangka kerja kebijakan adaptif yang dapat mengurangi kerugian lingkungan dan menstabilkan tata kelola sumber daya alam di Pulau Kalimantan. Keseluruhan ketiga saran tersebut dapat memperjelas rencana transisi energi sehingga 100 % energi terbarukan dapat dicapai secara ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan.

  1. Review of Renewable Energy Potentials in Indonesia and Their Contribution to a 100% Renewable Electricity... mdpi.com/1996-1073/14/21/7033Review of Renewable Energy Potentials in Indonesia and Their Contribution to a 100 Renewable Electricity mdpi 1996 1073 14 21 7033
Read online
File size1.61 MB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test