PNLPNL

Jurnal TeknologiJurnal Teknologi

Bau badan merupakan masalah kesehatan dan sosial yang umum dialami banyak orang, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Iklim dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi memicu produksi keringat berlebih. Pada sebagian individu, keringat yang dihasilkan dapat menimbulkan bau badan. Hal ini terjadi akibat aktivitas bakteri pada permukaan kulit menguraikan senyawa organik, seperti asam amino menjadi asam lemak volatil. Senyawa volatil tersebut berkontribusi terhadap timbulnya bau khas pada area ketiak. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi bau badan diantaranya adalah penggunaan deodoran yang mengandung senyawa antiseptik sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Kantar Worldpanel (2019), sekitar 64,2% masyarakat tercatat rutin menggunakan deodoran. Namun, sebagian besar produk deodoran yang beredar di pasaran masih mengandung bahan kimia seperti aluminium klorohidrat, triclosan, dan paraben. Penggunaan bahan-bahan tersebut dalam jangka panjang dikaitkan dengan risiko kesehatan, salah satunya kanker payudara. Kekhawatiran ini mendorong meningkatnya minat terhadap produk berbahan alami seiring tren back to nature karena dinilai lebih aman, terjangkau, dan minim efek samping. Tanaman herbal yang berpotensi sebagai deodoran alami adalah daun beluntas (Pluchea indica). Sejak lama, daun beluntas telah digunakan secara tradisional untuk mengatasi bau badan. Daun beluntas mengandung berbagai senyawa aktif, seperti flavonoid, tanin, dan minyak atsiri. Senyawa tersebut efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, yaitu bakteri utama penyebab bau badan.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ukuran serbuk dan lama perendaman terbukti berpengaruh signifikan terhadap kualitas ekstrak daun beluntas.Ukuran serbuk 100/120 mesh dengan waktu perendaman lima hari menghasilkan ekstrak terbaik dengan rendemen 11,75%, kadar sisa pelarut 0,73%, kandungan flavonoid stabil, serta aktivitas antioksidan sangat kuat (IC₅₀ 3,79 ppm), sehingga berpotensi tinggi untuk diformulasikan lebih lanjut.Selain itu, variasi konsentrasi ekstrak dalam sediaan deodoran memengaruhi sifat fisik, aktivitas antibakteri, dan tingkat kesukaan panelis.Konsentrasi 25% memberikan hasil paling optimal dengan pH 4,5, berat jenis 1,14 g/mL, viskositas 23,55 cP, mampu menghambat 50% pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, serta memperoleh penilaian terbaik dari panelis pada aroma dan after-feel.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih lanjut mengenai formulasi deodoran spray ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi 25% yang telah terbukti efektif. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan formulasi yang lebih stabil dan meningkatkan efektivitas antibakterinya. Selain itu, dapat dilakukan pengujian klinis terhadap pengguna deodoran ini untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penggunaannya. Selanjutnya, penelitian juga dapat mengeksplorasi potensi penggunaan ekstrak daun beluntas dalam produk perawatan kulit lainnya, seperti krim atau lotion, untuk memanfaatkan manfaat antioksidan dan antibakterinya.

Read online
File size433.02 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test