PNLPNL

Jurnal TeknologiJurnal Teknologi

Penelitian ini memproduksi pupuk kalium cair menggunakan air laut dan sabut kelapa sebagai alternatif berkelanjutan dan ekonomis bagi pupuk anorganik. Tujuan penelitian adalah meneliti pengaruh variasi waktu macerasi (4, 8, 12, 16, dan 20 hari) serta berat sabut kelapa (10, 15, 20, 25, dan 30 g) terhadap pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan kandungan K₂O pupuk cair. Proses produksi melibatkan pengambilan dan penyaringan air laut, persiapan sabut kelapa (perendaman, pengeringan, penggilingan, dan penimbangan), serta macerasi dengan air laut selama periode yang ditentukan. Analisis pH, TDS, dan K₂O dilakukan pada setiap kombinasi. Hasil menunjukkan bahwa pH menurun seiring peningkatan berat sabut kelapa dan waktu macerasi, berkisar 8,47 → 7,33, namun tetap aman untuk pertumbuhan tanaman. TDS meningkat dengan lama macerasi dan jumlah sabut kelapa, mencapai 6000 ppm pada 20 hari dengan 30 g sabut kelapa. Kandungan K₂O tertinggi 0,132 % dicapai pada 16 hari macerasi dengan 30 g sabut kelapa, menandakan kondisi optimal pelepasan kalium. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi air laut dan sabut kelapa dapat menghasilkan pupuk kalium cair dengan karakteristik menjanjikan, serta menawarkan solusi pertanian yang ramah lingkungan dan hemat biaya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa waktu macerasi dan berat sabut kelapa secara signifikan memengaruhi pH, TDS, dan kandungan K₂O pupuk kalium cair.Kondisi optimal bagi ekstraksi kalium, yaitu pH 7,66, TDS 5956,67 ppm, dan K₂O 0,132 %, tercapai pada 16 hari macerasi dengan 30 g sabut kelapa.Hasil menunjukkan potensi air laut dan sabut kelapa sebagai sumber pupuk kalium cair yang bersifat berkelanjutan dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Berdasarkan temuan, penelitian lanjutan dapat memfokuskan pada (1) menguji efektivitas pupuk kalium cair ini pada tanaman lain selain bayam, dengan menyesuaikan dosis dan frekuensi aplikasi, untuk mengukur peningkatan biomassa dan hasil panen; (2) mengeksplorasi penggunaan pelarut alternatif atau kombinasi pelarut, seperti air tawar bersuhu terkontrol, guna meningkatkan tingkat ekstraksi K₂O dan mengurangi waktu macerasi yang diperlukan; (3) melakukan analisis ekonomi dan lingkungan secara komprehensif, termasuk siklus hidup (life‑cycle assessment) untuk menilai emisi gas rumah kaca dan biaya produksi, serta menilai skalabilitas proses produksi di tingkat industri. Penelitiannya dirancang agar dapat memberi panduan praktis bagi produsen pupuk lokal dan kebijakan pertanian berkelanjutan.

Read online
File size374.9 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test