STIK SAMSTIK SAM

Prosiding Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan SamarindaProsiding Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda

Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) diduga memiliki khasiat sebagai obat herbal, namun juga berpotensi menimbulkan efek toksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat toksik ekstrak etanol daun kratom terhadap larva Artemia salina Leach, menentukan nilai Lethal Concentration 50 (LC50), serta mengidentifikasi senyawa kimia dalam ekstrak yang dihasilkan melalui metode maserasi dan refluks. Penelitian dilakukan secara eksperimental melalui tahapan determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi, perhitungan rendemen, uji kadar air, skrining fitokimia, uji toksisitas akut dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), dan analisis data menggunakan metode probit. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kratom yang diperoleh dari metode maserasi dan refluks mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid/steroid. Rendemen metode maserasi sebesar 34,49% dan refluks sebesar 32,1%, dengan kadar air masing-masing 6,5% dan 8%. Nilai LC50 metode maserasi adalah 143,50 ppm dan metode refluks 71,08 ppm. Kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori toksik terhadap larva Artemia salina Leach.

Nilai LC50 ekstrak etanol daun kratom dengan metode refluks (71,08 ppm) lebih rendah dibandingkan metode maserasi (143,50 ppm), menunjukkan bahwa ekstrak hasil refluks lebih toksik.Kedua metode ekstraksi menghasilkan ekstrak yang bersifat toksik terhadap larva Artemia salina Leach.Ekstrak tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid/steroid yang berkontribusi terhadap aktivitas toksik.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa aktif spesifik dalam ekstrak etanol daun kratom yang bertanggung jawab terhadap toksisitas, terutama senyawa alkaloid seperti mitraginin, agar dapat diketahui mekanisme kerjanya secara lebih mendalam. Kedua, perlu dikaji perbandingan efek toksik ekstrak daun kratom terhadap hewan uji lain yang lebih kompleks secara fisiologis, seperti hewan vertebrata, untuk menilai potensi risiko toksisitas pada manusia. Ketiga, perlu dievaluasi potensi ekstrak kratom sebagai agen antikanker dengan menguji efek sitotoksik terhadap sel kanker dalam kultur sel, mengingat nilai LC50 berada dalam rentang yang dikaitkan dengan aktivitas antitumor, serta membandingkannya dengan ekstrak dari bagian tanaman lain seperti akar atau kulit batang yang mungkin memiliki komposisi senyawa berbeda.

Read online
File size118.27 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test