UGMUGM

Jurnal PolGovJurnal PolGov

Artikel ini membahas tentang pemanfaatan teknologi pemilu di tengah era post truth yang menuai perdebatan antara efisiensi dan kepercayaan publik. Secara spesifik, teknologi pemilu yang dimaksud adalah aplikasi SITUNG (Sistem Informasi Penghitungan Suara) yang digunakan untuk proses rekapitulasi suara berbasis online. Dalam konteks pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2019, penggunaan SITUNG menuai polemik di tengah masyarakat yang berujung pada terjadinya demonstrasi dan kerusuhan massa selama proses rekapitulasi suara berlangsung. Artikel ini menjawab pertanyaan mengapa pemanfaatan SITUNG dalam proses rekapitulasi suara pada Pilpres 2019 menuai polemik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksploratif dengan pengumpulan data melalui data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan SITUNG dalam proses rekapitulasi suara menjadi kontroversial, sebab adanya kesalahan teknis yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu dalam proses input data ke SITUNG memicu keraguan dan kecurigaan publik. Momentum ini dimanfaatkan oleh calon kandidat dan elit politik yang kalah dalam pemilu untuk memobilisasi massa agar tercipta public distrust yang pada akhirnya berujung pada upaya untuk mendelegitimasi hasil pemilu. Hal tersebut semakin diperkeruh di tengah era post truth yang ditandai dengan hadirnya isu negatif dan berita palsu menggunakan media sosial.

Ulasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa pemanfaatan SITUNG dalam proses rekapitulasi suara menjadi kontroversial karena adanya kesalahan teknis yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu dalam proses input data ke SITUNG memicu keraguan dan kecurigaan publik.Momentum ini dimanfaatkan oleh calon kandidat dan elit politik yang kalah dalam pemilu untuk memobilisasi massa guna menciptakan public distrust yang berujung pada upaya mendelegitimasi hasil pemilu.Peristiwa ini diperkeruh di era post truth, di mana isu negatif dan berita palsu melalui media sosial memperkuat persepsi publik bahwa KPU curang dan tidak netral, memicu kerusuhan massa.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan sistem verifikasi otomatis pada SITUNG yang mengintegrasikan teknologi blockchain untuk meningkatkan transparansi dan auditabilitas, sehingga mengurangi kesalahan input manusia dan meningkatkan kepercayaan publik. Selain itu, studi etnografis dapat dilakukan untuk memahami persepsi masyarakat terhadap teknologinya, termasuk faktor literasi digital dan dampaknya pada partisipasi pemungutan suara, sehingga kebijakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Akhirnya, evaluasi tersiklik berkelanjutan mengenai dampak media sosial terhadap kepercayaan publik terhadap pemilu dapat membantu merancang strategi mitigasi hoaks dan misinformasi dalam konteks pemilihan lebih luas di Indonesia.

  1. USING VOTE E-RECAPITULATION AS A MEANS TO ANTICIPATE PUBLIC DISORDERS IN ELECTION SECURITY IN INDONESIA... doi.org/10.18510/hssr.2019.7515USING VOTE E RECAPITULATION AS A MEANS TO ANTICIPATE PUBLIC DISORDERS IN ELECTION SECURITY IN INDONESIA doi 10 18510 hssr 2019 7515
  2. Trust, Identity, and the Effects of Voting Technologies on Voting Behavior - Anne-Marie Oostveen, Peter... journals.sagepub.com/doi/10.1177/0894439305275852Trust Identity and the Effects of Voting Technologies on Voting Behavior Anne Marie Oostveen Peter journals sagepub doi 10 1177 0894439305275852
Read online
File size372.65 KB
Pages41
DMCAReport

Related /

ads-block-test