UGMUGM

PCD JournalPCD Journal

Menulis secara ringkas dan komprehensif tentang kebangkitan, pencapaian, dan tantangan demokrasi Indonesia sejak 1998 adalah hal yang sulit. Jamie Davidson telah memberikan upaya yang terpuji dalam kurang dari delapan puluh halaman yang mudah diakses dalam seri Cambridge Elements, yang bertujuan untuk menggabungkan tinjauan terkini tentang perdebatan dalam literatur ilmiah dengan analisis orisinal dan argumen yang jelas. Ia berfokus pada politik, ekonomi politik, mobilisasi berbasis identitas, dan sampai pada tiga kesimpulan utama. Pertama, bahwa demokratisasi Indonesia kuat dalam perspektif komparatif, terutama terkait dengan pemilihan umum dan kebebasan, tetapi lemah jika dilihat lebih dekat. Hal ini terutama buruk, katanya, terkait dengan supremasi hukum dan administrasi publik yang imparsial (yaitu korupsi), ditambah dengan peningkatan praktik suap pemilih karena persaingan yang mencolok antara kandidat setelah daftar partai tertutup dinyatakan tidak konstitusional pada tahun 2008. Kedua, bahwa demokrasi, dan proses demokratisasinya, adalah kerangka kerja utama yang paling tepat untuk mempelajari Indonesia. Ketiga, fokus sebelumnya pada perubahan dan kesinambungan dalam studi tentang Indonesia setelah Suharto telah selesai, karena dua puluh tahun sejak jatuhnya rezim Suharto merupakan periode yang cukup lama untuk memenuhi syarat untuk penelitian khusus (hlm. 4–5). Tiga fase diidentifikasi: satu (berlabel inovasi) di bawah presiden B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Sukarnoputri; yang lain (berlabel stagnasi) di bawah Susilo Bambang Yudhoyono, dan yang ketiga (berlabel polarisasi) di bawah Joko Widodo, atau Jokowi.

Meskipun terdapat beberapa kelemahan dalam analisisnya, tinjauan Davidson terhadap berbagai aspek pembangunan pasca-Suharto di Indonesia tetap bermanfaat, terutama bagian tentang ekonomi politik dan mobilisasi berbasis identitas.Ia menyoroti dampak dari desentralisasi politik dan administrasi setelah 1998, yang dipercepat oleh ledakan komoditas yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan India.Selain itu, Davidson mengidentifikasi kombinasi pertumbuhan ekstraktif lokal dengan praktik mencari keuntungan dan mobilisasi berbasis identitas sebagai proses penting yang perlu diperhatikan.Pada akhirnya, Davidson berpendapat bahwa ancaman terbesar terhadap demokrasi Indonesia berasal dari nasionalisme Islam, yang berpotensi bersekutu dengan oligarki dan pemimpin militer untuk melemahkan sistem demokrasi.

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami secara mendalam dinamika hubungan antara organisasi masyarakat sipil lokal dan keberhasilan pembangunan sosial-politik, seperti yang terlihat dalam kasus Solo di bawah kepemimpinan Jokowi, dan bagaimana model ini dapat direplikasi secara nasional. Selain itu, penting untuk mengkaji lebih lanjut dampak dari praktik akumulasi modal primitif dan ekstraksi sumber daya alam terhadap pembangunan inklusif di Indonesia, serta mencari solusi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan sosial yang semakin melebar. Terakhir, penelitian perlu difokuskan pada analisis komparatif mengenai peran organisasi berbasis kepentingan produktif, seperti serikat pekerja dan kelompok petani, dalam menegosiasikan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, serta bagaimana memperkuat kapasitas mereka untuk berpartisipasi secara efektif dalam proses pengambilan kebijakan.

Read online
File size80.33 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test