UGMUGM

PCD JournalPCD Journal

Studi ini bertujuan untuk menambah perdebatan yang sedang berlangsung mengenai keadaan multikulturalisme dalam lanskap politik Indonesia. Menggunakan Yogyakarta sebagai kasus percontohan, studi ini menyarankan bahwa praktik politik kelompok radikal seharusnya ditempatkan dalam formasi spasial politik urban. Hal ini akan membuka cakrawala baru terhadap mitos politik yang telah mengalihkan kekerasan sebagai nilai atau reproduksi kepercayaan yang digerakkan oleh kelompok-kelompok tertentu dan secara bertahap memperluasnya sebagai mode keterlibatan politik. Mewakili ruang sebagai register politik yang secara diskursif dibentuk oleh tiga diskursus dominan; identitas lokal, multikulturalisme, dan terakhir terorisme global. Studi ini berpendapat bahwa warga Yogyakarta tunduk pada perantara antara tiga kekuatan ini yang menyusun ruang urban Yogyakarta sebagai entitas lokal, nasional, dan global. Dalam konteks ini, ekspresi kelompok radikal seharusnya dilihat sebagai politik dissent yang bertujuan untuk mengubah dan mengapropriasi tiga konjungtur spasial yang menggambarkan Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa artikulasi dissent dan ketidakpuasan adalah bentuk politik yang efektif untuk berinteraksi dengan konsep kewarganegaraan urban.

Esai ini mengusulkan bahwa praktik kelompok fundamentalis dapat dianggap sebagai praktik kewarganegaraan.Praktik ini muncul saat kelompok tersebut berusaha untuk melawan berbagai ruang yang mencoba mengecualikan mereka.Dengan mengapropriasi representasi dari ruang-ruang ini, kelompok berusaha memasuki lanskap politik masyarakat sambil mempertahankan aspirasi politik mereka.Gerakan ini sendiri muncul saat kelompok tersebut berharap untuk menghindari pengecualian dan diakui sebagai subjek politik yang sah.Hal ini menghasilkan bentuk kewarganegaraan yang ditandai dengan nada fundamentalis yang kuat di satu sisi dan afirmasi terhadap berbagai aturan masyarakat serta ruang politik yang kompatibel dengan praktik kewarganegaraan tersebut di sisi lain.

Berdasarkan analisis ruang dan kewarganegaraan, esai ini mengusulkan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk menyelidiki bagaimana praktik kewarganegaraan kelompok fundamentalis dapat ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai ruang yang mengatur dan mengelola politik perbedaan di Yogyakarta. Penelitian ini juga dapat mengeksplorasi bagaimana kelompok fundamentalis menggunakan bahasa dan narasi toleransi untuk menantang ruang-ruang yang mendiskriminasi mereka, dan bagaimana mereka berusaha untuk mengapropriasi dan mereformulasi ruang-ruang tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Selain itu, penelitian lanjutan dapat menyelidiki bagaimana kelompok fundamentalis menggunakan ruang publik untuk mengadvokasi aspirasi politik mereka, dan bagaimana praktik kewarganegaraan mereka dapat mempengaruhi dan membentuk ruang politik di Yogyakarta.

Read online
File size1.1 MB
Pages31
DMCAReport

Related /

ads-block-test