KHATECKHATEC

Indonesian Journal Of Exercise Therapy And RehabilitationIndonesian Journal Of Exercise Therapy And Rehabilitation

Luka punggung bawah (LBP) merupakan gangguan muskuloskeletal paling sering terjadi yang secara signifikan mengurangi fungsi dan kualitas hidup, khususnya pada penderita LBP tidak spesifik (NSLBP). Pada penelitian ini, kami mengevaluasi efektivitas intervensi multimodal yang terdiri dari terapi titik trigger, pijatan jaringan dalam, dan peregangan dalam mengurangi intensitas nyeri serta meningkatkan fleksibilitas lumbar pada pasien NSLBP. Metode yang digunakan adalah studi kuantitatif pre-experimental dengan desain satu kelompok pretest–posttest pada 21 partisipan. Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan fleksibilitas lumbar diukur dengan Fingertip-to-Floor Test (FTF). Intervensi dilakukan dalam satu sesi berdurasi sekitar 50 menit. Hasilnya menunjukkan penurunan signifikan pada skor VAS dari rata-rata 77,48 menjadi 32,14, serta peningkatan fleksibilitas lumbar secara signifikan, terutama pada anteflexion (dari 10,81 menjadi 4,31). Analisis statistik menggunakan t‑test berpasangan memverifikasi perbedaan yang signifikan antara pre‑test dan post‑test (p < 0,05) pada semua variabel. Kesimpulannya, kombinasi terapi titik trigger, pijatan jaringan dalam, dan peregangan secara efektif mengurangi nyeri dan meningkatkan fleksibilitas pada pasien NSLBP, sehingga mendukung penerapan pendekatan manual terapi berskala luas sebagai strategi rehabilitasi berbasis bukti.

Intervensi multimodal yang menggabungkan terapi titik trigger, pijatan jaringan dalam, dan peregangan terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan fleksibilitas lumbar pada pasien dengan LBP tidak spesifik.Pengurangan signifikan pada skor VAS serta peningkatan pada fleksibilitas anteflexion menunjukkan manfaat klinis jangka pendek intervensi tersebut.Meski demikian, desain pre‑experimental tanpa kelompok kontrol dan sampel kecil menuntut penelitian lebih lanjut dengan metode RCT untuk menguatkan temuan ini.

Pertama, penelitian lanjutan dapat menanyakan apakah peningkatan fleksibilitas lumbar setelah intervensi multimodal dapat dipertahankan dalam jangka panjang, misalnya melalui pertanyaan Berapa lama manfaat pengurangan nyeri dan peningkatan fleksibilitas dapat bertahan tanpa terapi lanjutan?. Kedua, studi selanjutnya dapat mengeksplorasi efektivitas intervensi yang disesuaikan berdasarkan profil pasien, seperti usia, tingkat aktivitas, dan tingkat keparahan nyeri, dengan menanyakan Apakah kombinasi manual therapy yang dipersonalisasi lebih efektif dibandingkan interval standar?. Ketiga, penelitian berikutnya dapat menambahkan komponen edukasi berpengetahuan tentang manajemen nyeri dan melakukan interaksi interaktif, sehingga menanyakan Apakah integrasi edukasi pasien dengan terapi fisik meningkatkan kepatuhan dan hasil klinis lebih baik daripada terapi fisik saja?. Penelitian ini akan memperluas pemahaman tentang cara terbaik memaksimalkan hasil terapi multimodal dalam manajemen LBP, sekaligus menyediakan dasar ilmiah bagi praktik klinis yang lebih terpersonalisasi dan berkelanjutan.

Read online
File size419.08 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test