JOURNAL IASSSFJOURNAL IASSSF

Journal of Earth KingdomJournal of Earth Kingdom

Latar belakang: Ekosistem mangrove sangat krusial untuk menjaga keanekaragaman hayati, termasuk komunitas kepiting yang vital bagi stabilitas ekosistem ini. Kepiting berperan dalam siklus nutrisi dan jaring makanan, memperkuat kesehatan ekologi habitat pesisir. Penelitian ini meninjau komunitas kepiting di area mangrove Desa Tabongo, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, dan bagaimana kondisi lingkungan memengaruhi distribusi serta keanekaragaman mereka. Metode: Riset ini melibatkan survei pada tiga stasiun yang merepresentasikan kondisi vegetasi mangrove berbeda. Spesies kepiting diidentifikasi, dicatat keanekaragaman dan kelimpahannya. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, dan pH diukur, serta indeks keanekaragaman (H) dihitung untuk menilai keanekaragaman spesies dan hubungannya dengan faktor lingkungan. Temuan: Sebelas spesies kepiting dari empat famili teridentifikasi, termasuk Uca (Paraleptuca) annulipes dan Ocypode ceratophthalmus. Indeks keanekaragaman berkisar 1,3 hingga 1,6, menunjukkan keanekaragaman sedang. Kondisi lingkungan dengan suhu 32–34 °C, salinitas 13–19 ppt, dan pH 6,5 hingga 7, kondusif bagi kepiting. Stasiun III, dengan vegetasi mangrove lebih sehat, mendukung keanekaragaman dan kelimpahan kepiting lebih tinggi dibanding stasiun terdegradasi. Kesimpulan: Studi ini menekankan peran krusial ekosistem mangrove yang sehat dalam menopang keanekaragaman hayati dan stabilitas ekosistem kepiting. Ini menegaskan pentingnya konservasi mangrove untuk memelihara keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem pesisir dari degradasi. Kebaruan/Originalitas artikel ini: Dengan mengaitkan kesehatan ekosistem mangrove dengan keanekaragaman dan kelimpahan kepiting, penelitian ini menyoroti dampak langsung faktor lingkungan terhadap populasi kepiting. Temuan ini penting untuk konservasi mangrove, tidak hanya untuk kekayaan spesies tetapi juga untuk menjaga keseimbangan ekologis di ekosistem pesisir, menyediakan data berharga untuk manajemen keanekaragaman hayati dan upaya konservasi mendatang.

Berdasarkan hasil studi, keanekaragaman kepiting di area mangrove Desa Tabongo, Boalemo, tergolong sedang dengan indeks H antara 1,3-1,6 dan indeks kekayaan spesies 1,70.Nilai indeks kemerataan spesies berkisar 0,920–0,971, menunjukkan distribusi individu antarspesies yang relatif seragam tanpa dominasi signifikan.Kondisi ini mengindikasikan struktur komunitas kepiting yang cukup seimbang dalam ekosistem mangrove yang diteliti.

Penelitian lanjutan dapat memperkaya pemahaman mengenai dinamika ekosistem mangrove dan komunitas kepiting. Pertama, penting untuk melakukan studi ekologi yang lebih mendalam guna mengkuantifikasi secara spesifik bagaimana berbagai jenis aktivitas antropogenik, seperti deforestasi atau konversi lahan menjadi tambak, secara langsung memengaruhi struktur komunitas kepiting dan parameter lingkungan di Desa Tabongo. Hal ini akan melibatkan analisis tentang korelasi antara intensitas gangguan manusia dengan perubahan pada indeks keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan spesies kepiting dalam skala waktu yang lebih panjang. Kedua, mengingat adanya perbedaan preferensi habitat antarspesies kepiting yang disoroti dalam penelitian ini, sangat relevan untuk meneliti secara rinci spesialisasi relung ekologi, perilaku mencari makan, dan interaksi biologis kompleks antarspesies kepiting (misalnya kompetisi atau predasi). Memahami bagaimana strategi adaptasi terhadap substrat dan interaksi ini memengaruhi distribusi serta struktur komunitas kepiting di berbagai mikrohabitat mangrove akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Ketiga, perlu adanya investigasi mengenai kontribusi spesifik dari masing-masing jenis vegetasi mangrove utama yang ada di lokasi, seperti Rhizophora mucronata atau Sonneratia alba, terhadap preferensi habitat, kelimpahan, dan keanekaragaman spesies kepiting. Dengan demikian, kita dapat mengidentifikasi apakah terdapat jenis mangrove tertentu yang secara signifikan lebih berperan dalam menopang keberadaan komunitas kepiting atau keseluruhan keanekaragaman kepiting di ekosistem tersebut. Saran-saran ini bertujuan untuk menghasilkan data yang lebih mendalam dan berkelanjutan, yang krusial untuk perumusan strategi pengelolaan dan konservasi ekosistem mangrove serta keanekaragaman hayati kepiting di masa depan.

  1. Diversity and density of crabs in degraded mangrove area at Tanjung Panjang Nature Reserve in Gorontalo,... doi.org/10.13057/biodiv/d190351Diversity and density of crabs in degraded mangrove area at Tanjung Panjang Nature Reserve in Gorontalo doi 10 13057 biodiv d190351
  2. Struktur komunitas ekosistem mangrove dan kepiting bakau di Desa Lamanggo dan Desa Tope, Kecamatan Biaro,... doi.org/10.35800/Jplt.7.1.2019.22817Struktur komunitas ekosistem mangrove dan kepiting bakau di Desa Lamanggo dan Desa Tope Kecamatan Biaro doi 10 35800 Jplt 7 1 2019 22817
  3. Mangrove crab intestine and habitat sediment microbiomes cooperatively work on carbon and nitrogen cycling... journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0261654Mangrove crab intestine and habitat sediment microbiomes cooperatively work on carbon and nitrogen cycling journals plos plosone article id 10 1371 journal pone 0261654
Read online
File size871.02 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test