UNTADUNTAD

Preventif : Jurnal Kesehatan MasyarakatPreventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat

Bentuk perilaku seksual seperti seks pranikah merupakan salah satu penyebab remaja rentan terhadap HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo pada tahun 2020 pada remaja 15-24 tahun berjumlah 30%. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang determinan perilaku seksual pada remaja di Kota Tengah Kota Gorontalo. Penelitian survei deskriptif dengan populasi 1.977 remaja (15-18 tahun) dan sampel 333 orang menggunakan teknik purposive sampling dan analisis data univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 333 responden, 111 responden (33,3%) memiliki perilaku seksual berat dan 222 responden (66,7%) memiliki perilaku seksual ringan. Bentuk perilaku seksual yang telah dilakukan responden adalah berkencan 62,8%, berfantasi seks 31,8%, berpegangan tangan 65,2%, berciuman di pipi dan dahi 28,5%, berpelukan 31,5%, berciuman di bibir 12,9%, meraba area sensitif 10,5%, membelai 4,2% dan melakukan hubungan seksual 2,1%. Hasil analisis dua variabel menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku seksual berat ditemukan pada remaja dengan pengetahuan yang kurang 60,0%, pada remaja dengan akses informasi media positif yang banyak 38,1%, pada remaja yang memiliki kegiatan rekreasi berisiko tinggi 92,9% dan pada remaja yang terpapar pornografi 52,0%. Diharapkan remaja mengisi waktu luang mereka untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, dan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah Kota Tengah dan orang tua dalam membina remaja.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki perilaku seksual ringan.Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi tergolong baik.Namun, akses terhadap informasi media positif terkait kesehatan seksual masih rendah.Sebagian besar remaja mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang dikategorikan berisiko rendah, dan sebagian besar remaja juga ditemukan terpapar konten pornografi.Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan orang tua dapat memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi secara terbuka, terutama dalam membantu remaja mengakses informasi sehat dan kegiatan positif lainnya yang dapat mengisi waktu luang secara produktif, sekaligus mencegah paparan konten pornografi.Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan desain analitis untuk menentukan hubungan antar variabel dan mengidentifikasi faktor-faktor yang secara signifikan berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian kualitatif untuk menggali lebih dalam mengenai faktor-faktor sosial dan budaya yang memengaruhi perilaku seksual remaja di Kota Tengah, khususnya mengenai norma-norma yang berlaku dan bagaimana norma tersebut memengaruhi pilihan remaja dalam berinteraksi secara seksual. Kedua, penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dapat dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, dukungan sosial dari keluarga, dan perilaku seksual remaja, sehingga dapat diketahui apakah ada korelasi signifikan antara faktor-faktor tersebut. Ketiga, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk melacak perkembangan perilaku seksual remaja dari waktu ke waktu, serta mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan proteksi yang memengaruhi perubahan perilaku seksual tersebut. Dengan demikian, dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika perilaku seksual remaja dan implikasinya terhadap kesehatan reproduksi.

Read online
File size269.31 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test