PAEDIATRICAINDONESIANAPAEDIATRICAINDONESIANA

Paediatrica IndonesianaPaediatrica Indonesiana

Program imunisasi COVID‑19 Indonesia memberi dosis primer kepada remaja dan dewasa, sedangkan booster hanya diberikan kepada dewasa. Penelitian ini menilai apakah booster juga diperlukan bagi remaja dengan membandingkan kejadian COVID‑19 dan titer antibodi IgG penetralisasi SARS‑CoV‑2 pada remaja yang menerima dua dosis primer dan dewasa yang menerima dua dosis primer ditambah satu booster heterologan. Sebuah studi cross‑sectional melibatkan 419 partisipan di Jakarta (233 remaja, 186 dewasa). Kejadian COVID‑19 setelah vaksinasi lebih rendah pada remaja (2,2 %) dibanding dewasa (8,8 %) (p < 0,01). Titer rata‑rata antibodi IgG menurun lebih tajam pada remaja (96,78 U/mL) dibanding dewasa (97,85 U/mL) (p < 0,05). Kesimpulannya, meski kejadian COVID‑19 lebih rendah pada remaja, titer antibodi lebih rendah, menandakan potensi perlunya booster bagi remaja dalam konteks epidemiologi saat ini. Ini mendukung strategi vaksinasi berbasis usia, menyesuaikan dosis dan lama interval booster untuk melindungi kelompok usia berbeda.

Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja memperoleh perlindungan terhadap kejadian COVID‑19 yang lebih rendah dibanding dewasa setelah vaksinasi, tetapi titer antibodi IgG penetralisasi SARS‑CoV‑2 pada remaja lebih rendah dibandingkan dewasa.Meskipun titer antibodi di kedua kelompok masih berada di atas ambang protektif, perbedaan ini menandakan perlunya evaluasi lebih lanjut tentang kebutuhan booster bagi remaja.Strategi vaksinasi berbasis usia dapat dioptimalkan dengan mempertimbangkan perbedaan respon imun antara remaja dan dewasa.

Pertama, studi longitudinal berkelanjutan perlu dilakukan guna memantau dinamika titer antibodi dan kejadian COVID‑19 pada remaja yang menerima dua dosis primer sekaligus membandingkannya dengan dewasa yang menerima satu booster heterologan, sehingga dapat dipastikan apakah interval booster dapat disesuaikan secara aman bagi remaja. Kedua, penelitian eksperimental dapat mengevaluasi efek dosis booster khusus remaja menggunakan platform vaksin berbasis RNA atau subunit protein, karena platform tersebut mungkin memberikan titer antibodi yang lebih tinggi dan durasi perlindungan yang lebih lama bagi kelompok usia tersebut. Ketiga, penelitian intervensi dapat menilai pengaruh kombinasi vaksinasi rutin (misalnya vaksinasi BCG atau vaksin hepatitis B) yang telah terbukti memicu imunitas terlatih pada remaja, terhadap respon antibodi dan kerentanan terhadap varian SARS‑CoV‑2 yang baru muncul, sehingga dapat menambah strategi pertahanan imun yang holistik bagi populasi muda.

  1. DOI Name 10.3390 Values. name values index type timestamp data serv crossref desc prefix mdpi email admin... doi.org/10.3390DOI Name 10 3390 Values name values index type timestamp data serv crossref desc prefix mdpi email admin doi 10 3390
Read online
File size237.78 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test