UMYUMY

AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development ResearchAGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research

Perluasan areal panen ke lahan suboptimal (terutama di luar Pulau Jawa) dapat dijadikan sumber pertumbuhan pertanian yang produktif. Teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA) mampu meningkatkan produktivitas tanaman kedelai hingga 4,0 ton/ha pada lahan suboptimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana proses pengambilan keputusan adopsi inovasi budidaya kedelai jenuh air berlangsung di Desa Labuhan Ratu Enam, Lampung Timur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori proses pengambilan keputusan inovasi (Rogers). Hasil penelitian menunjukkan: i) saluran interpersonal adalah pendekatan yang dipilih untuk mengenalkan teknologi BJA kepada 25 petani adopter potensial melalui diskusi, praktik lapang, dan pendampingan; ii) variabel karakteristik petani yang berpengaruh adalah tingkat pendidikan nonformal dan motivasi, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan formal dan pengalaman usahatani, tingkat pengenalan petani terhadap BJA tidak berbeda nyata; iii) tingkat persuasi yang dirasakan oleh petani tentang BJA ternyata berhubungan secara signifikan dengan aspek kerumitan dan kemungkinan dicoba, namun tidak dengan kesesuaian dan kemungkinan diamati; iv) antartahapan dalam proses keputusan inovasi BJA secara berurutan terbukti mempunyai hubungan positif yang signifikan.

Berdasarkan pendekatan komunikasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa saluran komunikasi yang digunakan dalam proses difusi berjalan tidak cukup efektif, yang dibuktikan dari rendahnya tingkat adopsi, hanya 40% petani yang akhirnya mengadopsi teknologi BJA.Tingkat pengenalan petani terhadap BJA dipengaruhi tingkat pendidikan non formal dan motivasi, sedangkan tingkat pendidikan formal dan pengalaman berusaha tani tidak berpengaruh nyata.Terdapat hubungan positif yang signifikan antara tahap pengenalan dengan tahap persuasi, tahap persuasi dengan tahap pengambilan keputusan, dan tahap implementasi dengan tahap konfirmasi.Sebagian besar petani adopter merasakan impresi yang baik dari usahatani baru mereka ini (budidaya kedelai dengan teknologi BJA).

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas saluran komunikasi dalam proses difusi inovasi, khususnya pada konteks teknologi pertanian di wilayah rawa pasang surut. Hal ini penting untuk merancang strategi penyuluhan yang lebih tepat sasaran dan mampu meningkatkan tingkat adopsi petani. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model adopsi inovasi yang mempertimbangkan karakteristik spesifik lahan suboptimal, seperti tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air. Model ini dapat menjadi panduan bagi petani dalam memilih teknologi yang sesuai dengan kondisi lahan mereka. Ketiga, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk menguji efektivitas berbagai pendekatan pelatihan dan pendampingan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani terkait teknologi BJA, serta dampaknya terhadap produktivitas dan pendapatan petani.

  1. Proses Pengambilan Keputusan Adopsi Inovasi Teknologi Budidaya Kedelai Jenuh Air (Kasus: Labuhan Ratu... agraris.umy.ac.id/index.php/agraris/article/view/960Proses Pengambilan Keputusan Adopsi Inovasi Teknologi Budidaya Kedelai Jenuh Air Kasus Labuhan Ratu agraris umy ac index php agraris article view 960
Read online
File size156.83 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test