UMMATUMMAT

Education, Social Sciences, and Linguistics: Conference SeriesEducation, Social Sciences, and Linguistics: Conference Series

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemerolehan bahasa, khususnya perkembangan fonologi, pada anak usia 2 tahun bernama Almira Shanum Hanindiya (ASH), yang berdomisili di Kp. Sadeng, Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng. Studi kasus kualitatif deskriptif ini menggunakan teknik pengumpulan data simak libat cakap, di mana peneliti menyimak, memperhatikan, dan berinteraksi untuk mendorong anak mengucapkan kata-kata. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa anak ASH telah menguasai pengucapan huruf vokal [a], [i], [u], [e], dan [o] dengan baik di awal, tengah, maupun akhir kata, serta beberapa bunyi konsonan seperti [p], [b], [m], [t], [d], dan [n]. Walaupun telah menguasai sejumlah kosakata kata sifat, kata benda, dan kata kerja, banyak kosakatanya masih diucapkan dengan penyederhanaan bunyi atau hanya bagian belakangnya saja, menunjukkan bahwa anak berada pada tahap holofrasis—yaitu satu kata dapat mewakili ide keseluruhan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa perkembangan fonologi dan leksikal anak ASH sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan interaksi di sekitarnya, sehingga peran orang tua sangat krusial dalam menstimulasi kemampuan berbahasa anak.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis terhadap perkembangan fonologi anak ASH yang berusia 2 tahun, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak tersebut telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, baik dari segi jumlah kosakata maupun kemampuan pelafalan.Anak ASH mampu memproduksi bunyi berbagai jenis kata, meliputi kata sifat, kata benda, dan kata kerja, meskipun beberapa pengucapannya belum sempurna dan masih berupa penyederhanaan bunyi atau pemendekan suku kata.Secara keseluruhan, pemerolehan bahasa anak ASH pada usia 2 tahun menggambarkan bahwa perkembangan fonologi dan leksikal anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan interaksi dengan orang di sekitarnya.Oleh karena itu, peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam menstimulasi kemampuan berbahasa anak melalui percakapan sehari-hari, pemberian contoh pelafalan yang benar, serta menciptakan lingkungan komunikasi yang hangat dan mendukung proses pemerolehan bahasa anak.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menginvestigasi pengaruh metode pengajaran bahasa yang berbeda terhadap perkembangan fonologi anak usia 2 tahun, dengan fokus pada efektivitas berbagai pendekatan dalam meningkatkan kemampuan pelafalan dan memperluas kosakata anak. Kedua, penelitian dapat mengeksplorasi peran lingkungan sosial dan interaksi keluarga secara lebih mendalam, termasuk bagaimana karakteristik interaksi orang tua dengan anak, seperti gaya komunikasi dan respons terhadap upaya anak berbicara, berkontribusi terhadap perkembangan bahasa anak. Ketiga, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor biologis dan genetik yang mungkin memengaruhi perkembangan fonologi pada anak usia dini, dengan melibatkan sampel yang lebih besar dan menggunakan metode pengukuran yang lebih canggih. Dengan menggabungkan temuan dari penelitian-penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses pemerolehan bahasa pada anak usia 2 tahun dan implikasinya terhadap intervensi dan dukungan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan berbahasa.

  1. Pemerolehan Bahasa Pertama pada Anak Usia Dini | Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. pemerolehan... doi.org/10.31004/obsesi.v3i1.160Pemerolehan Bahasa Pertama pada Anak Usia Dini Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini pemerolehan doi 10 31004 obsesi v3i1 160
Read online
File size199.07 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test